1.3K
Apakah kamu yakin tidak akan menyesal telah mengatakan dia/mereka adalah orang-orang terbaik yang pantas bertahan di dalam hidupmu?

Jika hubungan asmara / persahabatanmu masih sebatas saling tertawa dan seru-seruan bersama, agaknya akan terdengar sedikit prematur jika kamu merasa telah mengenal mereka seutuhnya. Apalagi jika kamu menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat cocok denganmu.

Apakah kamu siap untuk tetap mencintai kekasih/sahabatmu seperti saat-saat awal kamu mengenalnya? Apakah kamu yakin tidak akan menyesal telah mengatakan dia/mereka adalah orang-orang terbaik yang pantas bertahan di dalam hidupmu?

Kita semua pasti pernah mendengar kalimat, “Mendapatkan itu mudah. Mempertahankannya yang susah.” Ini adalah kalimat lawas yang sederhana. Banyak dari kita pun menyetujuinya.

Karena benar, tidak semua hubungan yang telah diterpa masalah, perselisihan dan pertengkaran, masih mampu bertahan dan melanjutkan langkah bersama dengan rasa cinta yang tak jauh berbeda dengan sebelum mereka berselisih. Dibutuhkan kerjasama pribadi-pribadi bermental luar biasa saja, yang mampu mengalahkan ganasnya ego diri sendiri, yang bisa melakukannya.

Demi menyelamatkan hubungan yang nilainya jauh lebih berharga dari sekedar ego.

Aku sendiri gagal melakukannya. Tidak hanya sekali. Berulang kali. Dan mungkin akan masih kuulangi lagi suatu saat nanti. Entah. Karena aku tak pernah bisa berjanji kapan aku bisa mengalahkan diriku sendiri, dan kapan aku akan gagal. Karena setiap perselisihan terjadi, egoku mendadak raksasa. Lalu aku tak cukup kuat untuk mengendalikannya, mempertanggungjawabkannya.

Mencintai sifat baik pasangan atau sahabat tidak akan pernah sulit (mendapatkan). Namun bagaimana dengan mencintai sifat buruknya (mempertahankan)? Sifat buruk hanya akan muncul saat perselisihan terjadi. Karena itu, bukankah lebih bijak jika kita baru membuat kesimpulan tentang kecocokan seseorang dengan diri kita, hanya setelah perselisihan pernah terjadi?

Saat masih di bangku kuliah, aku berteman dekat dengan beberapa orang yang, tanpa kami sadari, memiliki karakter yang kurang lebih mirip satu sama lain. Mulai dari selera humor kami, hingga cara kami merespon sebuah kejadian pun seringkali mirip. Bisa dibilang, persahabatan kami terbentuk secara alami, tanpa sengaja dibuat-buat. Ada chemistry yang hadir perlahan, merekatkan kami.

Namun seiring berjalannya waktu, di tahun kedua, perbedaan-perbedaan kecil yang ada ternyata cukup kuat untuk menciptakan perselisihan diantara kami. Sekalinya berakhir, sebuah perasaan berbeda timbul dan terus membekas, lalu mengendap di hati kami masing-masing. Merobek sedikit demi sedikit kelekatan perasaan kami, yang akhirnya menghancurkan persahabatan tepat pada tahun ketiga.

Aku merenung beberapa lama. Pikiranku terseret kembali pada kenanganku di masa SMA yang tak jauh berbeda dengan kejadian yang baru aku alami saat itu. Persahabatan kami retak pada tahun kedua kami bersama.

Apakah dua tahun benar-benar merupakan waktu minimal kita bisa mengenal seseorang seutuhnya?

Tidak terlalu penting sebenarnya berapa tahun yang kita perlukan untuk benar-benar mengenal seseorang. Yang pasti, kita membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk bisa mengenal seseorang seutuhnya.

Karena berbagai situasi yang kalian hadapi bersama, akan menyibak kenyataan tentang siapa diri mereka yang sesungguhnya. Dan hal ini tidak bisa semerta-merta kita ungkapkan dengan cara bertanya kepada orang yang bersangkutan secara langsung tentunya, seperti wawancara.

Yang perlu kita lakukan adalah jujur untuk menjadi diri sendiri ketika bersama mereka. Melihat reaksi mereka ketika kita menunjukkan sisi terbaik dan terburuk kita. Melihat setiap pertengkaran, perselisihan, atau percekcokan sebagai indikasi dari pertengkaran, perselisihan, dan percekcokan lain yang mungkin akan terjadi di masa depan. Seperti apa kita bersikap saat berselisih paham? Bisakah kita jujur melihat apa-apa yang kita sukai dan tak sukai dari mereka, tanpa diliputi delusi dan ekspektasi?

Setiap orang punya sisi baik dan sisi buruk dalam dirinya. Yang terpenting, kita tahu bahwa kita tak dapat mengubah seseorang jika perubahan itu bukan datang dari dalam diri mereka. Jika mereka tetap seperti sekarang, akankah kita masih mencintai mereka 5 atau 10 tahun dari sekarang? Sebaliknya, jika mereka berubah, akankah kita juga masih mencintai mereka seperti saat ini? Dan bagaimana dengan sifat buruk dari diri kita sendiri?

Sampai batas apa kita akan menoleransi sifat buruk mereka, dan sifat buruk kita? Di mana garis batas yang kita tarik sehingga kita tidak berada dalam hubungan yang justru akan menjerumuskan kita pada kesedihan, atau bahkan penganiayaan? Pada akhirnya, kita perlu tahu alasan mengapa kita hendak mempertahankan atau justru keluar dari sebuah hubungan.

Jangan sampai kita mempertahankan sesuatu hanya demi sekadar bertahan.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Mengenal Pasangan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

| @fibrya

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar