4.2K
Butuh waktu lama bagi saya untuk mengerti dan sembuh dari kecewa. Namun, dalam rentang waktu itu saya belajar bahwa waktu dapat menyembuhkan. Waktu memberi saya ruang untuk berpikir dan melakukan introspeksi.

Saya di bangku SD merupakan sosok anak perempuan yang bergantung, manja, dan tak punya pendirian. Karena usia belia dan ruang lingkup kehidupan saya yang hanya berkisar antara rumah dan sekolah, maka karakter saya sebagian besar terbentuk dari apa-apa yang saya temui di rumah, dan di sekolah. Orang-orang yang ada di sanalah yang membuat saya kemudian mengerti karakter diri saya sendiri.

Ibu bilang, saya harus mandiri. Melakukan hal-hal yang mampu saya lakukan sendiri. Ketika kecil, saya sering menunjukkan sikap manja. Saya takut melakukan hal-hal baru sendiri, dan selalu merengek kepada orang tua untuk menemani saya. Saat itulah mereka berkata bahwa saya belum memiliki pendirian. Apa-apa yang saya pilih selalu tergantung dengan apa yang teman-teman saya pilih. Saya tidak mengerti bahwa saya punya hak atas diri saya sendiri, atas pilihan-pilihan saya sendiri.

Misalnya, di SD, anak perempuan cantik dan hebat di mata teman-teman saya adalah mereka yang ikut ekstrakurikuler menari. Saya tertarik. Teman-teman perempuan saya semua ikut, lalu mengapa saya tidak? Saya merasa harus mengikuti kelas menari, karena dengan begitu, saya akan dianggap ada: sama dengan anak-anak perempuan yang cantik dan hebat. Mungkin, dulu saya belum memahami hal ini karena usia yang masih terlampau kanak-kanak. Namun kini saya tahu, apa yang saya lakukan dulu adalah semata karena saya ingin dianggap ada. Karena semua teman saya ikut menari, akhirnya saya juga selalu meluangkan waktu untuk latihan menari sepulang sekolah.

Namun saat digelar seleksi, hanya saya yang tidak dipilih untuk ikut dalam kompetisi tari. Menurut guru saya, saya tidak terlalu memiliki bakat untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Saya merasa kecewa, bahkan bisa dibilang ini merupakan rasa kecewa saya yang pertama.

Saya merasa saya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan usaha (yang pada saat itu, bisa dibilang, usahanya hanya sebatas mencari perhatian saja pada guru tari saya). Namun semua yang sudah saya usahakan terasa begitu sia-sia karena, toh, pada akhirnya, saya tidak dipilih!

Saya juga malu karena semua teman saya terpilih mengikuti kompetisi, dan tidak harus menanggung rasa kecewa seperti saya. Saya merasa tersisih dari lingkungan pergaulan teman-teman saya. Tidak sedikit juga yang mengolok, hingga akhirnya saya menilai diri sendiri sebagai anak yang payah, tidak berbakat, dan tidak cantik. Lebih parah lagi, saya menganggap saya tidak lagi diinginkan di antara teman-teman saya.

Ketika pulang ke rumah, saya menumpahkan seluruh kekecewaan saya pada Ibu. Saat itu, Ibu berkata bahwa prestasi tidak harus didapatkan dari tari saja. Ibu mengingatkan bahwa saya akan mengikuti konser piano dalam waktu dekat. Dan mungkin, saya gagal mengikuti kompetisi tari karena saya harus fokus dengan konser piano yang akan saya ikuti.

Perkataan Ibu membuat saya merasa lebih baik. Sebelumnya, berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam benak saya mengenai teman-teman dan guru tari saya; bahkan mengenai diri saya sendiri. Setelah bercakap dengan Ibu, saya merasa lebih tenang, dan memutuskan untuk mengikuti sarannya: berkonsentrasi berlatih untuk konser piano!

Setiap hari, saya semakin bergiat berlatih piano. Karena tak perlu lagi latihan menari, saya bisa berlatih piano lebih lama. Konser piano saya pun ternyata berjalan dengan lancar, dan saya bangga karena saya bisa melewatinya dengan baik! Saat itulah saya sadar betapa saya menikmati bermain piano. Dan bahwa saya ternyata memang tak begitu suka menari. Gerakan saya kaku ketika menari, namun saya menyadari betapa gemulainya jemari saya di atas tuts-tuts piano. Semua terasa begitu alami dan natural.

Lantas, mengapa dulu saya begitu kecewa ketika tak lolos seleksi tari?

Saya sadar bahwa pada saat itu, saya kecewa karena saya terlalu peduli dengan anggapan orang lain terhadap saya. Saya kecewa karena saya gagal menjadi anak perempuan seperti yang akan dikagumi teman-teman saya. Hal ini justru kemudian membuat saya kehilangan diri sendiri. Saya menguras tenaga untuk membuat orang lain kagum terhadap saya, namun justru mengabaikan hal-hal yang sesungguhnya saya sukai. Saya risau karena tak pandai menari, lalu melupakan kenyataan bahwa saya diberkahi kemampuan yang sangat baik dalam bermain piano.

Dulu, saya terbiasa menilai diri sendiri berdasarkan reaksi orang lain terhadap saya. Ketika teman-teman mengejek dan guru tari tidak menganggap saya cukup baik, saya melihatnya sebagai cerminan nilai diri saya sendiri. Sebagai penolakan hidup terhadap saya. Padahal, bukankah hal ini hanya sebatas pada masalah tari-menari?

Bukankah hidup saya sesungguhnya jauh lebih luas dari sekadar tari-menari?

Meski butuh waktu lama bagi saya untuk mengerti dan sembuh dari kecewa, dalam rentang waktu itu saya belajar bahwa waktu dapat menyembuhkan. Waktu memberi saya ruang untuk berpikir dan melakukan introspeksi. Untuk kembali mendengarkan diri sendiri dan semakin mendekat kepada diri saya yang sejati.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Belajar tentang Kecewa: Seperti Apa Bentuk Rasa Kecewamu yang Pertama?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

audisya fatia | @audisya

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar