2.9K
Peristiwa-peristiwa terjadi justru untuk membuatmu bertemu dengan orang-orang tertentu. Untuk menyadari hal-hal spesifik. Membuka mata dan hati tentang pilihan tak wajar yang tersedia, meski jarang diambil. Tentang kemustahilan yang ternyata mungkin. Semesta kita ini unik, dan saya percaya kebaikan menarik kebaikan lainnya.

“Bu, mau kunyit asam campur beras kencur, dong!” saya mencegat ibu-ibu berbakul jamu yang keluar dari salah satu gang.

“Boleh!” Dengan muka sumringah, Ibu ini menurunkan bakulnya dan membuatkan pesanan saya. Ketika membayar, saya terkejut. Bukan karena harga segelas jamu, tapi karena uang yang baru saya ambil di ATM raib dari saku saya.

“Wah, Neng dari mana? Kalau di sini, ya, ndak ada," ucap si Ibu lirih ketika tahu kejadian yang menimpa saya. “Coba dicari lagi, Neng."

Saya tak mampu menjawab, masih panik membayangkan kecerobohan saya dan tentunya uang yang entah ada di mana itu.

Salah satu rutinitas yang setahun belakangan ini coba saya penuhi adalah berjalan pagi setidaknya 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Jalan kaki singkat di pagi hari mampu membuat mood saya meningkat, dan biasanya menulis jadi lebih lancar.

Rute jalan pagi yang saya pilih biasanya sesuka hati dan selapar perut. Pagi itu, saya memilih Borma supermarket sebagai perhentian. Sebelum masuk ke Borma untuk membeli beberapa kebutuhan, saya terlebih dahulu mengambil ATM di depan superstore tersebut.

Sembari mencoba menenangkan diri, saya berjalan gegas menuju Borma. Menimbang-nimbang, di mana kira-kira saya menjatuhkan uang itu? Tebakan saya: ketika membayar, saya membayar menggunakan kartu; bukan tunai. Mungkin ketika mengambil kartu, tak sengaja saya menjatuhkan uang tersebut dari saku. Mungkin.

Dalam hati saya berpikir, wah, apes betul saya hari ini. Siapa yang akan mengembalikan gempolan uang limapuluh ribuan yang tergeletak di depan mata? Toh, seandainya ingin dikembalikan, kepada siapa? Saya yang salah, saya yang ceroboh.

Saya mengutuki kekurang hati-hatian saya sembari harap-harap cemas membayangkan kemungkinan terbaik apa saja yang bisa terjadi. Uang tersebut masih ada di sana setelah 20 menit berlalu atau seseorang yang baik hati menemukannya. Walau saya sendiri tahu, begitu kecil kemungkinan ini terjadi.

Memasuki Borma, saya menarik nafas dalam-dalam untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk. Mendekati kasir tempat saya melakukan transaksi, saya bertanya, “Mbak, ada uang jatuh di sini nggak, tadi?”

Dengan ekspresi biasa-biasa saja, dia balik bertanya pada saya. “Yang jatuh uang berapa, Mbak?”

“Uang lima puluh ribuan, enam lembar, Mbak. Tadi baru ambil dari ATM di luar," ujar saya lemas.

Tidak ada jawaban apa-apa, tapi pegawai ini kemudian membuka lacinya dan mengambil gempolan uang limapuluh ribuan dan berjalan ke arah Pak Satpam. Tanpa komando saya mengikutinya, setengah tak percaya, setengah haru, senang, panik, semua bercampur jadi satu.

Pak Satpam menanyakan beberapa pertanyaan standar kepada saya. Melihat struk pengambilan ATM, dan memastikan perkiraan waktunya. “Saya nggak tahu jatuh di mana, Pak, tapi mungkin di kasir waktu bayar," curhat saya mengakhiri cerita.

“Saya nemunya di sini, Mbak, bukan di kasir. Untung, lho, yang nemu kita. Artinya uang ini belum waktunya hilang," ujarnya sembari menyerahkan uang tersebut pada saya.

Saya menyalami mereka dan mengucapkan beribu terima kasih. Terharu, uang itu masih ada. Tapi lebih terharu lagi, ternyata Semesta memang selalu punya waktu dan caranya sendiri.

Jika sesuatu adalah milikmu, tak peduli seberapa kecilpun kemungkinan yang ada, dia akan tetap jadi milikmu. Jika hal tertentu memang bukan untukmu, tak peduli sekuat apa kamu mencoba, hal tersebut tak pernah akan mengada untukmu.

Peristiwa-peristiwa terjadi justru untuk membuatmu bertemu dengan orang-orang tertentu. Untuk menyadari hal-hal spesifik. Membuka mata dan hati tentang pilihan tak wajar yang tersedia, meski jarang diambil. Tentang kemustahilan yang ternyata mungkin. Semesta kita ini unik, dan saya percaya kebaikan menarik kebaikan lainnya.

Kejadian itu akan saya jadikan pengingat untuk lebih sering berbuat baik kepada sesama: kepada siapa saja, dan tentunya lebih berhati-hati. Oh, sekali lagi saya dibuat percaya cara kerja Semesta!

Terima kasih.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Beginilah Cara Semesta Bekerja.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar