2.8K
Seperti bahagia, rasa sakit juga menuntut bukan hanya perhatian; namun juga penghargaan dari kita.

Kita semua pasti pernah merasakan sakit. Kadang rasa sakit ringan, namun bisa juga rasa sakit yang amat parah. Sakit pun kadang bisa terasa oleh badan, walau tak sedikit yang hanya bisa dijangkau oleh hati dan perasaan.

Rasa sakit kerap dikaitkan dengan siksaan. Dianggaplah ia sebagai rentetan dari seluruh keadaan yang berlabuh pada penderitaan. Banyak orang bergidik ngeri begitu mendengar kata penderitaan, dianggaplah ia sesuatu yang menyengsarakan.

Sudah merupakan hukum universal bahwa kebanyakan dari kita menghindari rasa sakit.

Adalah naluri dari setiap insan untuk menghindari rasa sakit demi mencari rasa yang tidak sakit.

Namun yang sering terjadi, rasa sakit ibarat jala yang begitu memerangkap hingga susah bagi kita untuk melepasnya. Rasa sakit juga bisa diibaratkan tinta hitam yang dituang ke dalam air jernih. Bila kita aduk, maka bertambah pekatlah ia. Namun bila kita mau menunggu, sesungguhnya gumpalan hitam itu bisa saja turun perlahan dan tenggelam di dasar.

Bila kita mau berpikir positif, rasa sakit sesungguhnya amat berguna. Ya, ia bermanfaat.

Pertama, untuk melatih kita. Memberi penempaan bagi jiwa yang lemah. Menguatkan mental agar kita lebih kuat menghadapi dunia.

Kedua, untuk menyadarkan kita bahwa kita hidup di dunia dualitas. Terima tidak terima, memang begitulah adanya. Tentu hukum semesta tidak akan mengijinkan kita untuk hanya merasakan bahagia tanpa pernah mencecap derita. Jadi, ketika kita tersadar bahwa sesungguhnya di dunia ini rasa sakit adalah bagian darinya, maka sedikit tidaknya kita akan belajar menerima dan mengikhlaskan diri untuk merasakan sakit dalam bentuk apapun.

Ketiga, untuk menyiapkan diri kita menyambut babak hidup yang selanjutnya. Tentu semua dari kita telah fasih mengucapkan pepatah roda kehidupan berputar, kadang dibawah kadang diatas. Atau kata RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang. Ya memang setelah hujan lebat dengan awan tebal akan muncul suatu hari yang cerah. Jadi sesakit apapun rasa kita saat ini, suatu saat nanti ia akan berganti bahagia. Dan saat itu, tengoklah ia dan merasa banggalah karena kita mampu melewatinya dengan gagah berani.

Rasa sakit haruslah dirayakan. Ketika kita telah mampu menganggap ia berguna, maka tak akan ada sedikitpun keraguan untuk merayakannya.

Dengan merayakan rasa sakit yang kita terima, secara tidak langsung kita telah mengeluarkan energi positif dan menyatakan rasa syukur. Rasa syukur merupakan obat dari segala penyakit di dunia. Sekali kita bersyukur maka roda kehidupan kita akan memutar ke arah yang lebih baik.

Memang, hidup adalah tentang suka dan duka. Namun tak ada satu hukum kehidupan pun yang mengatur bagaimana kita bersikap tentang dualitasnya. Jadi, alangkah luar biasanya bila kita memilih untuk tetap bersyukur terlepas apapun yang kita hadapi.

Memang terdengar sulit, bahkan mustahil.

Namun, bersediakah Anda mempelajari dan memahami rasa sakit itu? Pesan apa yang tersembunyi di baliknya?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Menghargai dan Memahami Rasa Sakit.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Traveller, A Believer

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar