713
Meskipun tak selalu mengungkapkan betapa saya mencintai ibu saya, saya tidak membencinya. Saya hanya belum bisa mencintai Ibu dengan cara yang umum, seperti anak-anak lain kepada ibunya.

Tidak semua orang hidup dalam keluarga ideal; keluarga dengan kedua orangtua yang selalu hadir dan menunjukkan cintanya kepada satu sama lain. Biasanya, hal ini terlihat dari seringnya sebuah keluarga makan, tertawa, berkumpul, atau liburan bersama. Keluarga yang mudah dicintai dan dirindukan.

Saya selalu merasa sedikit iri pada teman-teman saya yang memiliki keluarga seperti ini.

Saya heran pada teman-teman yang mampu menceritakan kehidupan sehari-harinya kepada orangtua mereka. Saya terkesima ketika tahu bahwa ayah dan ibu mereka mengenal nama saya dan teman-teman lainnya. Saya iri, bahwa ketika teman saya yang seperti ini memiliki masalah, ia akan bicara kepada orangtuanya. Saya tidak pernah begitu. Rasanya terlalu canggung. Saya pun merasa sudah terlalu tua untuk mengubah keadaan ini.

Sekilas, tampaknya saya adalah seorang anak yang kurang perhatian dan kurang kasih-sayang. Apabila kasih-sayang ibu saya diukur dari waktu yang ia habiskan bersama saya, atau kedekatannya dengan hidup saya, maka mungkin benar demikian adanya. Maka, tidak jarang orang mengira bahwa saya marah kepada Ibu dan membencinya karena masa kecil yang tidak sempurna.

Akan tetapi, meskipun tak selalu mengungkapkan betapa saya mencintai ibu saya, saya tidak membencinya. Saya hanya belum bisa mencintai Ibu dengan cara yang umum, seperti anak-anak lain kepada ibunya.

Jujur, sulit bagi saya untuk berkata bahwa Ibu telah memenuhi peran ibu pada umumnya. Tidak mudah bagi saya untuk meminta nasihat atau pertolongan pada Ibu, karena kami memang tidak pernah dekat seperti itu. Begitu mudah bagi saya untuk menilai Ibu serakah, atau bahkan naif, karena pilihan-pilihan hidupnya.

Namun, apabila saya terus-menerus mencari sosok keibuan dalam diri Ibu, maka saya hanya akan membencinya--karena sosok itu jarang sekali hadir. Tapi, tidak. Saya tidak membenci Ibu.

Maka, saya belajar mencintai Ibu bukan sebagai ibu, melainkan sebagai seseorang, sebagai manusia.

Ibu adalah seseorang yang luar biasa. Seorang perempuan yang kuat menanggung hidup saya dan kakak saya, seorang diri. Ibu tidak meninabobokan saya, melainkan menyuruh saya tidur sendiri di kamar yang gelap. Saya bisa terus marah karena kurangnya kehangatan yang saya terima dari cara Ibu membesarkan saya sewaktu kecil. Namun, apakah tugas seorang perempuan dalam keluarga hanyalah untuk memberikan kehangatan pada anaknya?

Ibu saya bukan 'hanya seorang ibu' dan tidak seharusnya saya menilai Ibu hanya dari kemampuannya berlaku seperti seorang ibu pada umumnya. Maka, saya pun dapat memilih untuk tidak marah, tapi bersyukur karena seorang perempuan mengajarkan saya untuk tidak takut pada gelap dan kesendirian.

Saya dapat bersyukur atas kehadiran seorang perempuan yang tepat untuk saya contoh, mulai dari selera musiknya, perjuangannya mencapai kebebasan, sampai kemandiriannya dalam mengarungi hidup. Ibu tidak selalu menyampaikan rasa cintanya, namun berbagai kekelaman yang ia lalui dan simpan sendiri sudah cukup menunjukkan kerja kerasnya untuk membuat saya merasa dicintai.

Ibu beserta pilihan-pilihannya menjadikan saya sangat berbeda dari anak-anak pada umumnya. Terkadang, saya tidak senang dengan hal ini, namun, bukankah saya telah dicintai oleh berbagai individu, dalam beragam cara?

Oleh karena itu, tidak mungkin rasanya saya meminta yang lain, dan tidak mungkin saya membenci Ibu.

Sekalipun saya merasa tidak menerima luapan cinta yang saya impikan sebagai seorang anak, saya tetap dapat membalas cinta Ibu. Karena meski tak memberikan sebanyak cinta yang saya mau, Ibu telah mengajarkan saya kecintaan akan kopi, ketertarikan akan puisi, dan membentuk diri saya menjadi pribadi yang sekarang ini, yang menurut saya: cukup bisa dibanggakan.

Saya percaya, bahwa segala hal terjadi dengan suatu alasan. Segala hal terjadi untuk memberi jalan bagi kejadian lain. Begitu pula kenyataan bahwa Semesta memilih Ibu menjadi ibu saya, dan memilih saya untuk menjadi anak Ibu.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Mencintai Orangtua yang Sulit Dicintai?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar