726
Jaga hati pasangan kita. Bagaimanapun, masa lalu adalah hal yang sensitif dibicarakan, jika itu menggunakan rasa. Tapi jika tidak menggunakan rasa, tak apa. Tapi, tak perlu menggalinya lebih dalam.

Jika dia adalah mantan kekasihmu, bersikap biasa itu menunjukkan bahwa hatimu tak lagi miliknya.

Pernahkah kau merasa canggung membicarakan mantan kekasih yang mungkin lama tak ada kabar? Jika masih merasa canggung, cek hatimu. Masihkah terbesit rasa rindu untuknya? Jika iya, segera hapuskan ketika salah satu dari kalian atau keduanya telah berkeluarga.

Saya pernah ditanya oleh beberapa teman tentang bagaimana perasaan saya terhadap mantan kekasih saya. Saya jawab, tidak ada rasa apapun. Ingatan mungkin ada, karena setiap orang pasti memiliki masa lalu. Tetapi bukan lantas semena-mena mengagungkan rasa yang pernah ada bukan?

Terlebih lagi ketika salah satu dari kita atau mungkin keduanya sudah berkeluarga.

Membahas masa lalu memang mengasyikkan, jika sebatas mengenang sudut pandang tentang cinta yang rasanya masih lugu untuk mengartikannya. Tak sepatutnya dibahas jika itu kelam.

Memori akan dengan cepat mencuat ketika si pemilik masa lalu itu belum selesai dengan urusannya. Ya, kita memang perlu menyelesaikan. Tapi bukan berarti harus bertemu, bertatap muka, duduk berdua membicarakannya. Cukup dengan menyudahi yang ada dalam hati dan pikiran kita. Saya percaya, Jika Tuhan tidak menghendaki bersama, berarti bukan jodoh. Jika Tuhan sudah menetapkan jodoh tapi bukan dia si mantan kekasih, tak perlu mencari mantan dan menanyakan alasannya.

Saat memutuskan berkeluarga, tentu sudut pandang tentang cinta akan berubah. Bukan lagi bersenang-senang makan bersama menghabiskan waktu malam minggu berdua. Ada hal yang harus dipikirkan ketika memutuskan menikah. Mempunyai anak dan waktu yang dihabiskan untuk keluarga. Akan bertemu dengan orang yang sama setiap hari dan tak perlu merasa bosan.

Saya yakin bahwa jodoh yang Tuhan pilih untuk kita adalah cermin dari diri kita sendiri. Jika ia mempunyai kekurangan, cobalah untuk mengkoreksi diri. Jika ia mempunyai kelebihan, berbanggalah. Tuhan telah menetapkannya sebagai pendampingmu.

Mungkin sedikit koreksi diri kita masing-masing, bahwa ada hal sepele yang membuat runyam jika tidak sehati. Beda sudut pandang itu mungkin, tapi saling memahami lebih memungkinkan untuk menjadi keluarga yang utuh dan bahagia.

Biarkan saja mantan kekasihmu belum berkeluarga, karena setiap orang berhak memutuskan apa yang ia jalani di hidupnya. Jika kamu belum berkeluarga dan mantan kekasihmu telah berkeluarga, cobalah membuka mata hatimu dan jangan pernah mengganggunya.

Jaga hati pasangan dan mantan pasangan kita. Bagaimanapun, masa lalu adalah hal yang sensitif dibicarakan, jika itu menggunakan rasa. Tapi jika tidak menggunakan rasa, tak apa. Tapi, tak perlu menggalinya lebih dalam.

Di dalam otak kita tersimpan memori yang siap memantik rasa di dalam hati. Maka berhati-hatilah dengan ucapanmu, pikiranmu dan rasa di dalam hatimu. Karena kini, setelah berkeluarga, semua tentang aku dan kamu telah menjadi kita.

Saya telah berkeluarga, begitu juga dengan dia. Mantan kekasih suami pun telah berkeluarga. Lalu apa yang perlu dibicarakan? Sepertinya tidak ada.

Jika kebetulan bertemu dalam satu wadah, cukup saling sapa dan tak perlu memantik api cemburu. Biarkan saja berjalan dengan hidupnya masing-masing. Tak perlu tahu lebih dalam dan berpura-pura simpati untuk mengorek luka luma. Berteman lebih baik tanpa mengungkitnya. Menahan rasa ingin tahumu akan terlihat lebih bijaksana. Tentunya tidak elok menjadi pemantik keributan dalam keluarga, bukan?

Sudahi saja yang sudah, dan biarkan berjalan apa mestinya. Tuhan sudah mengaturnya sedemikian rupa: setiap pertemuan, dan perpisahan, bukankah dua-duanya merupakan sisi dari satu keping mata uang yang sama?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Harus Bersikap dengan Mantan Kekasih Setelah Berkeluarga?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ayu Candra Giniarti | @marthalenabutikbajuk

Menulis dengan hati dan merasakan dengan kata. Ketika aku menggabungkan kedua unsur tersebut, ada rasa bahagia yang mencuat dari otak kemudian menjalar ke hati.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar