788
Saya pernah mengatakan kepada teman saya tentang ini. "Ketika saya sedih, saya tidak pergi traveling untuk mencari bahagia. Saya hanya pergi untuk bersedih di tempat lain. "

Tidak. Saya rasa tidak.

Menurut saya, traveling, terutama saat kita bepergian sendiri ke suatu tempat yang jauh, hanya akan memperkuat intensitas perasaan apa pun yang sedang kita rasakan pada saat itu.

Persoalannya begini: perasaan kita sebenarnya dapat diekspresikan melalui berbagai cara.

Mereka yang sedang sedih bisa membungkus diri mereka di dalam selimut atau berpesta sepanjang malam. Mereka yang sedang marah bisa menonjok dinding, menyumpah-serapah, merencanakan balas dendam, atau membuat lukisan abstrak dengan tinta hitam.

Saat kita traveling, perasaan kita tetap sama.

Seringkali, yang berubah adalah cara yang kita pilih untuk mengekspresikannya.

Saat kita sedih, traveling tidak akan membuat kita tiba-tiba bahagia. Tapi, berada di tempat baru, bertemu orang baru, atau dipaksa berada dalam situasi yang tidak biasa, memungkinkan kita terhubung dengan kesedihan kita dengan cara berbeda. Kita masih saja sedih, tapi kita memilih menyalurkan kesedihan kita dengan cara yang berbeda--cara yang mungkin tidak biasa kita pilih dalam kehidupan sehari-hari.

Dan inilah yang, kadang-kadang, terasa seperti kebahagiaan.

Tapi mungkinkah kita traveling saat sedih dan pulang kembali dengan perasaan bahagia?

Tentu saja mungkin.

Namun, alih-alih berfokus pada 'bagaimana merasa bahagia', mungkin kita justru perlu mengalihkan fokus pada 'bagaimana merasai sedih'.

Kesedihan, atau perasaan 'tidak nyaman' lain seperti kekecewaan, kemarahan, atau rasa malu, hadir untuk menempa kita jadi pribadi yang lebih baik. Mereka hadir karena kita membutuhkan perasaan-perasaan itu dalam hidup kita. Mereka ada untuk memberi sebuah hikmat, sebuah pelajaran, sebuah pesan. Namun, seringkali, kita malah begitu ingin menyingkirkan perasaan-perasaan ini agar tak perlu mencerna mereka sepenuhnya--hanya karena kita terlalu fokus pada pengejaran tanpa akhir akan 'kebahagiaan'.

Banyak hal yang menyamarkan diri sebagai 'kebahagiaan' - atau perasaan baik-baik saja.

Yah, 'menyamarkan diri' mungkin bukan kata yang tepat. Karena sebenarnya, ketika kita memberi cukup waktu untuk perasaan kurang nyaman dalam diri untuk diproses secara internal, terkadang perasaan ini malah bisa menemukan gerai ekspresi mereka yang paling sesuai. Dan perasaan itu pun lambat-laun dapat berubah menjadi perasaan yang lebih nyaman, seperti kebahagiaan, kepuasan, rasa cukup, kedamaian, atau bahkan kebanggaan.

Beberapa tahun lalu, saya menghadiri sebuah ceramah dari Dr. Dave Logan tentang bagaimana berkawan dengan kemarahan dalam diri kita dan menggunakan amarah untuk 'melepaskan sisi gelap'. Pikirkan film superhero favorit kita: banyak pahlawan super menggunakan kemarahan atau kesedihan mereka sebagai bahan bakar untuk melakukan sesuatu yang baik: sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Valiant Budi, seorang teman baik, berteman dengan kesedihan, depresi, kebingungan, dan rasa sakit saat ia pulih dari pendarahan otak, melalui tulisan-tulisannya. Baru-baru ini, ia menerbitkan sebuah novel berjudul Forgotten Colors, di mana karakter utamanya yang menderita stroke hemoragik mencoba memahami dunia di sekelilingnya saat ia bergulat di ambang batas antara imajinasi dan kenyataan.

Menulis juga menjadi cara saya untuk mengekspresikan perasaan dalam diri.

Menulis membantu saya memproses perasaan yang kurang nyaman dalam diri dan menjadi sarana yang nyaman digunakan saat saya memberikan retret, kelas, atau lokakarya penemuan diri. Untuk alasan ini, ketika saya sedih, marah, kecewa, atau kehilangan dan memutuskan untuk bepergian, saya akan pergi ke tempat terpencil di mana saya bisa menulis tanpa gangguan.

Tapi terkadang, dalam perjalanan, perasaan saya juga menemukan berbagai sarana mengekspresikan rasanya.

Saya pernah mengatakan kepada teman saya tentang ini. "Ketika saya sedih, saya tidak pergi traveling untuk mencari bahagia. Saya hanya pergi untuk bersedih di tempat lain. "

Bepergian sendiri, bagi saya, bukanlah pelarian; bukan dalam arti bahwa saya melarikan diri dari perasaan apa pun yang sedang saya rasakan saat itu.

Traveling, untuk saya, merupakan salah satu cara merasakan perasaan saya sepenuhnya, di dalam diri.

Traveling adalah cara yang terkadang saya pilih untuk memproses perasaan saya dengan jernih, tanpa harus terganggu atau dikompromikan dengan komitmen sebelumnya, rapat kerja, pekerjaan rumah, kebiasaan sehari-hari, atau teman yang bermaksud baik dan ingin membawa saya 'bersenang-senang untuk melupakan'.

Hal-hal tak familier yang ditemui saat kita melakukan perjalanan, terkadang memang memaksa diri menemukan cara berbeda untuk mengekspresikan perasaan-perasaan kita. Ketika saya bepergian, alih-alih menulis, terkadang cara ekspresiya saya berubah menjadi meditasi, membaca, berlatih yoga, mengikuti lokakarya seni, berjalan di tepi pantai, atau bahkan mengerjakan proyek pribadi yang membuat saya bersemangat.

Kita bisa merasa baik-baik saja meskipun sedang sedih, marah, sakit hati, atau kecewa--pada saat kita bisa menemukan cara mengekspresikan perasaan-perasaan itu lewat outlet yang konstruktif, bukan yang merusak.

Kadang-kadang, traveling ke tempat yang asing, memaksa kita untuk menemukan rangkaian ekspresi konstruktif itu--yang selama ini sebenarnya ada dalam diri kita. Sebagai gantinya, ekspresi ini lantas membuat kita merasa baik, bahagia, atau bahkan puas.

Traveling, buat saya, bukanlah tentang mengusir perasaan-perasaan tak nyaman dalam diri. Traveling adalah tentang merasakan semua perasaan-perasaan dalam diri, sepenuhnya, hingga pelan-pelan rasa-rasa itu berubah menjadi cinta--atau setidaknya, sesuatu yang dekat dengan cinta.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Traveling Bisa Membuat Saya Lebih Bahagia?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hanny Kusumawati | @hannykusumawati

Managing Editor of Kamantara.ID. A published writer and blogger at www.beradadisini.com. Organises workshops & weekend getaways in creative/travel/mindful writing & creative living.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar