6.4K
Kita sering tidak menyadari bahwa dalam kehidupan keseharian, gaya komunikasi adalah penyebab utama lahirnya tindak kekerasan baik fisik, maupun emosional.

Langsung atau tidak langsung, alat komunikasi kita adalah bahasa. Walaupun ada juga yang disebut bahasa tubuh atau gesture. Karenanya, bahasa tubuh juga menunjukkan isyarat tertentu untuk menyampaikan pesan.

Bahasa yang digunakan dan gesture yang ditunjukkan, itulah gaya komunikasi kita. Tentu saja gaya ini tidak muncul begitu saja dalam sekejap, tetapi merupakan kebiasaan yang tumbuh berkembang sekian tahun lamanya. Bisa jadi seumur dengan umur kita sendiri jika kita tidak mengubahnya.

Bagaimana gaya komunikasi kita terbentuk? Dan dari mana asalnya?

Nah, mau tidak mau saya harus mengatakan bahwa gaya komunikasi itu terjadi karena “ditularkan” atau “dicontohkan” secara tidak langsung dari sejak kita berusia dini oleh tokoh yang paling berpengaruh dalam kehidupan kita.

Mungkin dimulai dari usia “golden age” yaitu 3-5 tahun hingga usia dewasa. Ada tiga gaya komunikasi yang saya ketahui selama ini yaitu:

  • Gaya komunikasi Aggressive
  • Gaya komunikasi Passive/ Permissive
  • Gaya komunikasi Assertive

Secara psikologis, komunikasi itu sendiri menurut saya adalah suatu keterampilan mengekspresikan diri, baik mengekspresikan pikiran maupun perasaan dalam mengungkapkan ide-ide maupun pandangan-pandangan.

Gaya komunikasi Aggressive

Adalah pengungkapan diri yang bersifat Aggressive, “yang penting saya, kamu tidak penting”. Fokusnya pada pikiran dan perasaan saya, sementara pikiran dan perasaan kamu bukan prioritas.

Ketika seseorang menggunakan gaya komunikasi ini biasanya nada suaranya sinis, mata melotot, pandangan tajam, dahi berkerut, dan sering juga sambil mengalihkan pandangan. Akibatnya pada orang lain merasa sakit hati, merasa dihina, merasa direndahkan dan merasa diabaikan, kadang timbul juga perasaan bersalah. Lebih dalam lagi ia akan merasa dendam, marah dan komunikasi pun lambat laun terhambat.

Kalimat yang digunakan dalam komunikasi aggressive ini biasanya bersifat:

  • Mengancam, contoh: “Awas ya kalau kamu tidak patuh, saya akan memecat kamu!”
  • Menjatuhkan, contoh: “Kamu sebetulnya tidak bisa apa-apa kalau tidak saya bantu!"
  • Menyudutkan, contoh: “Gara-gara kamu semua ini terjadi!”
  • Menuduh, contoh: “Ini pasti kamu yang melakukan...!"

Gaya komunikasi Passive/Permissive

Gaya komunikasi ini bersifat Permissive atau Passive. Seseorang yang menggunakan gaya ini mengingkari perasaan, bersikap mengalah/terpaksa, terpaksa menerima. Jika situasi ini terjadi terus-menerus, akhirnya kita merasa terbebani, merasa kurang dihargai.

Di lain sisi kita pun tidak mampu mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya alias tidak jujur. Namun, ia sering menghibur hatinya dengan mengatakan “I am OK!” dan membiarkan orang lain mengekspresikan dirinya.

Seseorang yang menggunakan gaya komunikasi permissive ini akan diliputi perasaan sakit hati, kecewa, cemas, merasa lemah, merasa dimanfaatkan, dan menjadi korban, atau yang dikorbankan. Tujuan-tujuan hidupnya tidak tercapai dan lalu berbuntut frustasi. Hubungan dengan orang lain pun menjadi tegang, kaku, dingin.

Segala sesuatu tampak salah di mata masing-masing pihak.

Gaya komunikasi Assertive

Gaya komunikasi Assertive, bila seseorang dapat mengungkapkan diri secara jujur walaupun ini menyakitkan.

Namun, dengan pengendalian diri yang baik disertai penguasaan teknik komunikasi persuasive, ia mampu mengekspresikan dirinya secara efektif. Ia dapat bertanggung jawab secara sosial maupun emosional. Ia berani bersikap tegas, namun tetap berempati dengan menggunakan ‘bahasa saya’, misalnya: “Saya ingin”, “Saya rasa, “Menurut saya”.

Gesture-nya pun rileks, kepala tegak, ada kontak mata seraya menampilkan wajah ramah dan pembawaannya tenang. Ia juga sangat persuasive, misalnya mengatakan: “Menurut kamu bagaimana?" “Saya ingin kita mengatasi masalah ini bersama-sama demi kebaikan hubungan kita."

Seseorang yang menggunakan bahasa assertive ini sangat menyadari perasaan-perasaannya, sehingga ekspresinya sesuai dengan suasana hati. Jika sedih, menunjukkan wajah sedih, sebaliknya jika senang, menunjukkan wajah senang. Ia menata hidupnya tanpa menyakiti orang lain, menghargai dirinya serta yakin dengan tujuan yang akan dicapainya. Ia tidak baperan. Sehingga mampu menjalin hubungan secara harmonis dan stabil.

Dalam gaya komunikasi assertive, seseorang mengenali hak-haknya dan hak-hak orang lain karena percaya bahwa setiap individu memiliki hak-hak dan dasar manusiawi tertentu. Di antaranya hak menolak, hak berbuat salah, hak ekspresi diri, hak dicintai, hak dipahami, dan hak untuk merasa aman.

Apa manfaatnya jika kita dapat bersikap assertive? Kita mengenal diri lebih dalam dan membuat orang lain nyaman bersama kita, sehingga dapat mencegah konflik.

Mengenali Gaya Komunikasi yang Menjurus Pada Kekerasan Emosional

Pengaruh yang lebih dalam pada terbentuknya gaya komunikasi adalah tokoh pengasuh utama yang memiliki otoritas di rumah atau di dalam lingkungan keseharian dimana kita hidup.

Bila seorang ibu menyatakan kepada anaknya: “Kamu tuh selalu saja pegang apa-apa pasti tumpah!"
Apakah ini termasuk kekerasan emosional?
Ya, termasuk!

Mengapa? Karena si ibu memakai kata selalu, ini artinya tidak pernah tidak.

Jika kalimat ini berulang kali diucapkan apalagi ditambah dengan gesture tertentu misalnya dengan jari telunjuk menunjuk-nunjuk anak, lalu dengan intonasi suara yang memecah ruangan, maka kalimat itu bagaikan menghujam menusuk bawah sadar si anak terus-menerus.

Sang ibu seolah-olah sedang menanamkan tuduhan yang lama-kelamaan menjadi keyakinan (belief) bagi si anak bahwa itulah “dirinya”: yang selalu pegang apa-apa pasti tumpah.

Ada kata-kata yang dianjurkan tidak digunakan dalam komunikasi yaitu: harus, selalu, sering, jangan, tidak pernah.

Kata-kata ini biasanya kerap digunakan oleh orang-orang yang bergaya komunikasi aggressive.

Menurut teori NLP (neuro linguistic programming), satu kata atau kalimat yang diucapkan berulang kali terus-menerus akan mempengaruhi secara efektif sistem saraf kita. Pengulangan kata-kata itu disimpan di bawah lapisan kesadaran atau kerap disebut memory. Pengulangan kata itu tersimpan di dalam memory bertahun-tahun lamanya hingga mengkristal dan menjadi bagian dari diri seseorang. Maka, ia percaya inilah sifatnya.

Dengan percaya bahwa ini adalah sifatnya, akibatnya ia akan merasa tidak berdaya, merasa tidak mampu, dan akibatnya menjadi tidak percaya diri. Karenanya ia merasa tidak berharga, lama-lama ia kecewa pada dirinya sendiri dan mulai mempertanyakan eksistensinya.

Saya teringat yang dikatakan oleh salah seorang cucu Mahatma Gandhi, Arun Gandhi, bahwa dunia ini adalah segala yang telah kita lakukan di dalamnya. Jika hari ini ia kejam, itu karena kita telah membuatnya kejam dengan perilaku kita atau kita membiarkan aksi kejam di sekitar kita itu terjadi. Namun jika kita mengubah cara-cara kita, maka kita dapat mengubah dunia.

Lalu bagaimana caranya mengubah dunia yang super-super luas ini? Apakah mungkin manusia yang tak berdaya ini mampu mengubah dunia?

Nah, mulai lagi, deh, kita merasa kecil dan lemah. Berhentilah menganggap diri kita kecil! Tanyakan kepada diri: pikiran ini berasal dari mana? Ingat, pikiran ini muncul dari bawah sadarmu yang diinduksi oleh orang-orang di sekitarmu, terutama tokoh yang sangat berpengaruh dalam hidupmu.

Tapi tunggu dulu, yang dimaksud dunia di sini tentu bukanlah seluruh planet Bumi di mana kita tinggal. Melainkan dunia kita sendiri: dalam kehidupan yang sedang kita jalani, termasuk tempat kita membangun relasi-relasi di dalam keluarga dan masyarakat yang lebih luas.

Lalu dari mana kita memulai perubahan?

Mulailah mengubah bahasa kita dan cara-cara kita berkomunikasi.

Bahasa adalah bagian dari kebudayaan; sebagai hasil dari kesepakatan dan konstruksi suatu masyarakat. Jadi, bahasa yang kita gunakan tidak lebih dari bahasa tradisi atau bahasa ibu yang setiap hari kita dengar. Tidak heran jika bahasa kita sama dengan bahasa yang digunakan dalam keluarga. Demikian pula halnya gaya komunikasi kita.

Anda mungkin menyadari bahwa gaya komunikasi Anda hampir sama dengan saudara kandung, dan bisa jadi, gaya komunikasi anggota keluarga semua mirip-mirip. Coba sekali-sekali diperhatikan.

Selama saya mempelajari Psikologi Komunikasi dalam keluarga, sebenarnya dari kecil kita semua tidak secara khusus diajarkan bagaimana cara berkomunikasi.

Kita hanya secara spontan meniru orang dewasa. Bahkan bermula dari hanya mendengar orangtua bicara; kemudian kita mengikuti saja secara alami.

Nah, bayangkan jika setiap hari yang kita saksikan misalnya adalah gaya komunikasi aggressive, maka gaya itu pula yang akan kita ambil. Kita pikir begitulah cara berkomunikasi yang benar. Kita tidak berpikir bahwa gaya komunikasi kita telah mengakibatkan orang lain merasa terganggu dan menimbulkan perasaan-perasaan negatif. Kita sudah terbiasa dengan gaya itu, sehingga menjadi tidak sensitif terhadap perasaan orang lain.

Dalam konteks membangun hubungan, menurut saya mempelajari cara-cara berkomunikasi menjadi sangat penting. Terutama untuk membina hubungan antar pribadi dalam sebuah institusi perkawinan. Komunikasi yang berbasiskan nilai-nilai Penghargaan, Cinta dan Kedamaian serta Rendah Hati akan melahirkan komunikasi welas asih, disebut juga komunikasi Nir-Kekerasan, atau Nonviolent Communication meminjam istilah Marshal Rosenberg.

Bisa jadi, kita tidak menyadari bahwa kita telah melakukan kekerasan lewat gaya komunikasi kita, bahkan tidak mengenalinya.

Dikarenakan tidak mengenalinya, maka kita sulit mengakui kekerasan yang kita lakukan. Sebab selama ini, visi kekerasan kita hanya berhubungan dengan pembunuhan, pemukulan atau perkosaan. Padahal gaya komunikasi kita sudah membuat orang lain sakit hati. Itu berarti kita sudah melakukan kekerasan emosional. Misalnya mengeluarkan kata-kata: “Munafik”, “Sesat”, “Dasar malas”, “Masak begitu saja tidak bisa”, “Bukannya kamu ini pinter (mengejek)”.

Berbeda dengan kekerasan fisik, kekerasan emosional bersifat “hidden”, tidak tampak. Kerap orang yang mengalaminya menutupinya dengan tetap tersenyum, menguatkan dirinya, sehingga tampak baik-baik saja. Jadi jika menggunakan kekuatan fisik yang kemudian akibatnya tampak pada luka fisik maka itu disebut kekerasan fisik. Namun jika komunikasi yang dilakukan meninggalkan luka batin/luka hati (perasaan negatif), maka itu disebut kekerasan emosional atau kekerasan “passive”.

Kekerasan passive menimbulkan amarah pada si penerima kekerasan, yang lama-kelamaan tidak mustahil memicu untuk bereaksi dengan melakukan kekerasan fisik. Dampak dari kekerasan emosional adalah sikap aggressive dan passive. Sikap aggressive misalnya menyerang, mengancam, berbicara lantang, dan melawan, memukul, menghakimi, menuduh. Sementara sikap passive misalnya diam (gerakan tutup mulut), menghindar, menjauh, menggunjing di belakang, menangis dan mengalah/terpaksa, bersembunyi, kabur.

Terlepas dari dua sikap tersebut di atas, ada orang-orang yang mengalihkan emosi negatifnya itu dengan menghibur diri misalnya lewat olah raga berlebihan, menghabiskan malam dengan berkumpul hingga pagi, bekerja hingga larut malam (workaholic). Tapi ada juga yang menyakiti dirinya dengan minum obat-obat terlarang dan mabuk.

Perbuatan seperti ini tidak akan terjadi pada seseorang yang memiliki konsep diri positif. Mereka tahu bagaimana mengatasi perasaannya, karena itu, umumnya mereka mampu bersikap assertive.

Orang yang melakukan kekerasan emosional biasanya merupakan korban kekerasan emosional pula.

Ini bisa disebabkan karena gaya komunikasi aggressive yang ditularkan dalam keluarga atau bisa juga karena luka batin yang mengkristal dalam dirinya, dan ia sudah tidak kuat lagi menyandangnya dan kemudian meledak.

Dalam konteks membangun hubungan antar pribadi, perhatikan gaya komunikasi satu sama lain.

Jika ingin melanjutkan hubungan, kedua belah pihak harus membenahi diri dan mengubah gaya komunikasi yang menumbuhkan sikap welas asih, sehingga hubungan yang sehat tercipta.

Penting mempelajari ciri-ciri gaya komunikasi yang menggiring pada hubungan yang tidak sehat, misalnya antara lain: mengatur, memerintah, mengancam, berkhutbah, mengkritik, mengejek, menganalisa, menginterogasi, menghakimi, dan menarik diri.

Sikap-sikap ini mengakibatkan terjadinya hambatan komunikasi. Pihak yang menjadi korban bersikap passive, takut berbicara secara jujur, dan menjadi defensif. Di lain waktu, ia menjauh dan menghindari perjumpaan dari pasangannya. Hubungan antar pribadi pun lambat-laun meregang dan akhirnya terputus.

Ketika tersadarkan apa yang terjadi pada dirinya, tidak jarang yang muncul adalah penyesalan. Dalam ketidakberdayaannya, ia mencari keseimbangan. Beruntung jika kemudian ia mencari pertolongan kepada seorang profesional yang berpengalaman dalam terapi couple relationship. Terapi demi terapi yang dijalankan merupakan perjuangan tersendiri, proses healing yang tidak pendek dalam upaya kembali menemukan jatidiri — jiwa yang terbebaskan dari belenggu pertahanan diri menjadi “the other” demi citra yang memberinya kebahagiaan sesaat.

Sesungguhnya, cinta, damai, dan suci adalah kualitas dasar manusia yang telah dibawa sejak lahir.

Ketika seorang mengalami kekerasan emosional, ia perlu teringat kembali akan tiga sifat asli tersebut di atas, agar mendapat kekuatan untuk menata hidupnya dan merencanakan ulang tujuan-tujuan hidup pribadi dan mulai menjalani babak baru kehidupannya.

When you pay attention to the beginning of a story,
You can change the whole story.

Setiap manusia, tak peduli usianya, membutuhkan terpenuhinya 5 emosi dasar untuk berkembang secara utuh dan sehat, yaitu merasa dicintai, merasa dipahami, merasa dihargai, merasa aman, dan merasa bernilai.

Rajin-rajinlah memperhatikan perasaan kita dan kenali gaya komunikasi kita. Dari sini kita dapat menemukan apakah kita telah menjadi korban kekerasan emosional; atau sebaliknya justru menjadi pelakunya, tanpa disadari. Sebab gaya komunikasi ini sudah terbawa oleh kita mungkin dari sejak kecil.

Menurut teori Imago Relationship Therapy dalam konteks perkawinan, pasangan kita adalah orang yang tepat untuk membantu kita dalam penyembuhan diri, sebagaimana pasangan kita juga membutuhkan kita untuk penyembuhan dirinya.

Sayangnya, tidak semua pasangan menyadari ini dalam menjalani perkawinannya sejak awal. Ketika ada konflik dalam hubungan keduanya, sebenarnya itu merupakan indikasi dibutuhkannya perubahan dalam diri masing-masing untuk membangun hubungan yang lebih sehat. Dengan kata lain, jika ada aspek di dalam diri masing-masing yang selama ini tidak berkembang, artinya ada “sesuatu yang sedang butuh untuk bertumbuh”.

Perpisahan atau perceraian sebenarnya terjadi ketika masing-masing pihak tak lagi mampu secara sukarela melakukan perubahan diri. Tak bijak pula jika ada pihak yang langsung menjauh atau melarikan diri, atau jika ada pihak yang melakukan kekerasan alih-alih berupaya menata diri.

90% perkawinan atau hubungan antar pribadi terjalin secara tak sadar, atau un-conscious (marriage).

Sebab, umumnya, hubungan terjadi karena dipicu oleh ketertarikan fisik atau yang bersifat material. Sebaliknya ketika pasangan atau hubungan terjadi secara conscious (marriage) masing-masing pihak menyadari untuk saling mengingatkan bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan.

Ada misi luhur dari alam ini untuk mereka saling menyembuhkan luka hati atau trauma-trauma di masa kecil. Masing-masing mengizinkan pasangannya memenuhi kebutuhan aktualisasi diri dan menjadi dirinya sendiri.

Dalam level ini, gaya komunikasi apapun untuk membenarkan diri masing-masing menjadi tidak penting lagi. Pasangan mencari jalan untuk saling mendekat, bukan menjauh demi tercapainya titik temu di antara keduanya.

Tujuan kita berkomunikasi adalah untuk memahami dan dipahami, jika salah satu saja berbicara terus-menerus dan tidak ada satu pun yang mendengarkan maka itu berarti komunikasi tidak terjadi. Mendengarkan secara mendalam satu sama lain adalah suatu jalan saling memahami dengan kerendahan hati disertai welas asih.

Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing,
there is a field. I'll meet you there.
When the soul lies down in that grass,
the world is too full to talk about.
Ideas, language, even the phrase "each other" doesn't make any sense.
(Jalaluddin Rumi)

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Tanpa Sadar Kamu Sudah Melakukan Kekerasan Emosional dalam Hubungan Lewat Perkataanmu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rani A. Dewi | @raniad

Rani Anggraeni Dewi adalah Couple Relationship Therapist dan International Accredited Trainer for Living Values Education. Ia kini aktif di Yayasan Indonesia Bahagia.

What do you think ?