929
Bukan tanpa alasan bila momen ini disebut Tahun Baru.

Apa yang Anda rasakan tentang Tahun Baru? Atau, apa yang Anda pikirkan tentang Tahun Baru? Persepsi pasti tidaklah sama, antara Anda, saya, dia, dan mereka. Tapi ini bukan Anda melawan siapa-siapa, ini hanyalah murni pertanyaan semata.

Apa makna Tahun Baru untuk Anda?

Sadarkah, bila Tahun Baru itu memiliki kata "baru" di dalamnya?

Manusia adalah makhluk terdinamis yang pernah ada. Setiap detiknya, ada saja perubahan yang dilaluinya, meskipun kebanyakan manusia mengklaim bahwa mereka tidak suka perubahan. Tapi, perubahan memang bukan untuk disukai atau tidak disukai. Perubahan itu keniscayaan yang memang harus terjadi dan diterima.

Nyatanya, manusia tidak pernah benar-benar tidak suka akan perubahan.

Buktinya adalah Tahun Baru dan segala hingar-bingarnya. Membuktikan bahwa manusia selalu ingin momen perubahan, terlebih perubahan yang nyata dan seremonial. Itulah, Tahun Baru.

Namun sayang, perubahan itu seringkali dimaknai sebagi sesuatu yang bersifat seremonial saja, namun kehilangan makna. Atau lebih tepatnya, kehilangan makna 'kebaruannya'. Seruan terompet dan meletupnya petasan atau gosongnya jagung dan ayam bakar, hanya simbolisasi Tahun Baru. Namun, jika hanya sebatas itu, maka hanya seremoninya saja yang kita nikmati. Sedangkan makna kebaruan-nya seringkali luput.

Kata "baru" tidak disematkan secara asal, dan bukan hanya untuk menandakan nominal tahun yang bertambah. Baru, artinya membuang yang usang dan menggantikannya dengan yang baru. Atau, setidaknya, membuat suatu perubahan untuk memperbaiki yang lalu. Namun, bila Tahun Baru hanya disambut dengan gegap-gempita terompet dan kembang api saja, apakah tahun ini bisa disebut Tahun Baru?

Tahun Baru bukan semata tentang bagaimana kita menghabiskan atau melewatinya, namun lebih tentang seberapa besar niat kita untuk benar-benar memperbaharui diri setelahnya. Jangan sampai, setelah hingar-bingar petasan dan belasan jagung bakar dengan sisa-sisa mentega di mulut, kita masih saja gagal dalam bertahun baru. Bahwa di tahun yang baru, setelah gempita lewat, kita hanya akan merasakan kehampaan (kembali) dan terus melakukan kesalahan yang 'itu-itu lagi'. Bahwa tahun yang baru tak lain hanyalah tahun lalu yang berulang.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Tahun Baru Hanya Akan Menjadi Tahun Lalu yang Berulang?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

qurrotu ainiputri | @ainiputri

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

thanks Cara Membeli Saham