2.5K
Saya merasa saya ini sebenarnya orang jahat. Namun saya takut dihukum dan dicerca, maka saya berusaha menjadi orang baik.

Saya bukan orang jahat.

Saya selalu berpikir, saya ini orang yang cukup baik. Saya bukan tipe orang yang akan langsung diidentifikasi sebagai orang baik, namun saya tidak jahat. Saya tidak menginginkan hal buruk bagi orang lain.

Walaupun ada beberapa orang yang sangat tidak saya sukai, saya selau bertanya pada diri saya: "Apa saya sangat tidak suka, sampai-sampai saya benci? Apakah yang akan saya lakukan karena kebencian saya ini? Maukah saya menjadi musuh atau melawan orang ini? Apakah saya ingin mendoakan atau melakukan hal buruk pada lawan saya ini?"

Saya tahu saya tidak ingin melakukan apa-apa, saya hanya ingin kelelahan hati akibat ketidaksukaan ini terobati.

Tapi saya bukan orang yang terlihat baik pula.

Saya bukan orang yang merasa aman dan damai. Saya selalu merasa tertekan dan terancam. Terkadang, saya pikir lebih baik saya memarahi orang lain supaya saya tidak dimarahi lebih dulu. Terkadang saya takut tidak dihormati, maka saya menggerakkan berbagai siasat agar tampak berani--kalau perlu, menakutkan.

Jauh di dalam hati saya, ada bisikan bahwa setan yang tinggal di sana siap melahap kebaikan yang terletak di meja makan. Ada bisikan bahwa secepat dan sehebat apapun koki-koki dalam diri saya menyiapkan kebaikan untuk disantap orang lain, akan selalu ada setan yang melesat ke dapur, sehingga ketika orang lain masuk ke hati saya, sang setanlah yang akan menyambutnya.

Saya merasa saya ini sebenarnya orang jahat. Namun saya takut dihukum dan dicerca, maka saya berusaha menjadi orang baik.

Sesungguhnya kejahatan dalam diri saya sangat besar, dan ia menunggu saatnya untuk keluar dari kegelapan di pojok-pojok gelap hati saya yang tidak berani saya kunjungi. Maka saya orang jahat. Kalaupun tidak, saya sekadar belum jahat.

Saya tahu, terkadang persepsi kita terhadap diri kita sendiri lahir lewat persepsi orang lain terhadap kita. Saya hanya dibuat tambah bingung dengan ide tersebut. Karena tentunya, tidak semua orang berpersepsi sama tentang kita. Kita pun tidak menunjukkan sisi yang sama pada setiap orang.

Kepada orang yang mengancam kita, kita tunduk atau justru mengancam balik. Kepada orang yang tidak kita sukai, kita mungkin berlaku setidak baik mungkin agar ia menjauhkan diri. Atau mungkin kita menyembunyikan ketidaksukaan kita di balik senyum yang digerakkan oleh pikiran, dan bukan hati. Sedangkan kepada orang yang kita sukai atau cintai, kita tunjukkan sisi terbaik kita. Terkadang kita merasa begitu senang dan begitu aman dengan seseorang, sehingga kelegaan hati kita memberi cukup ruang bagi malaikat dalam diri kita untuk riang beterbangan.

Lalu saya ini orang seperti apa? Seorang yang munafik? Seseorang yang memilih-milih kepada siapa saya akan berbuat baik? Saya tidak tahu, begitu pula orang yang menilai saya. Kita pun tidak akan pernah tahu, selama kita belum terbebas dari pengaruh-pengaruh, penilaian orang lain, dan emosi yang bergejolak. Kita pun rentan akan kontradiksi.

Kita tidak akan sepenuhnya jahat atau sepenuhnya baik.

Maka, demikian pertanyaannya: perlukah kita berusaha menjadi orang yang baik? Atau kita harus berpasrah pada kenyataan bahwa kita pun dapat sewaktu-waktu berbuat buruk? Perlukah manusia diberi label, orang baik dan orang jahat?

Untuk saya, label-label itu mungkin tak terlalu penting. Belakangan, saya hanya mengizinkan diri berbuat apa yang bisa saya perbuat dengan selalu mengingat dan bertanya kepada diri sendiri: bagaimana rasanya jika orang lain melakukan perbuatan yang sama terhadap saya?





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Saya Orang Baik?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Alibaba Alibabi | @alibabaalibabi

Nice Post Good ArticleKata Kata Motivasi