2.7K
Menikahlah dengan cinta, dan mencintailah dengan hati yang tulus.

Ada saatnya ketika keputusan untuk mengakhiri kesendirian begitu kuat. Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri: ragu-ragu, tidak sabar, sedih, bahkan bahagia. Semuanya mengambil peranan penting dalam membuat keputusan akan masa depan yang dipenuhi harap dan impian: menikah.

Buat sebagian orang, menikah adalah jawaban. Buat yang lain, ia menjadi kata yang menimbulkan banyak tanya.

Kata pepatah, setiap kita sudah punya jodohnya masing-masing. Namun, apakah ketika kita menikah berarti kita sudah bertemu jodoh? Apakah pencarian jodoh lantas sudah berakhir dalam ikatan pernikahan ini?

Suatu hari, seorang kawan mengatakan kepada saya bahwa belum tentu jodoh orang yang sudah menikah berhenti pada pasangan yang dinikahinya. Bisa saja, katanya, saat menjalani biduk rumah tangga, pasangan yang satu bertemu perempuan atau lelaki lain, dan berjodoh menjalani hidup hingga selesai dengan perempuan atau lelaki yang bukan pasangannya itu.

Lalu, jika memang hal ini terjadi (dan bisa terjadi), saya jadi bertanya: di manakah kita seharusnya menempatkan hati ketika menyatakan diri siap untuk menikah?

Kebanyakan di antara kita, termasuk saya, sempat memikirkan beberapa alasan 'baik' untuk menikah: usia yang sudah cukup matang, kemapanan, dorongan lingkungan, tak ingin sendiri di masa tua, dan masih banyak lagi. Tapi saya sadar, menikah juga bukan sesuatu yang bisa diburu-buru, bahkan jika kita punya sederetan alasan baik tentangnya.

Menikah adalah kesediaan untuk mengakhiri kesendirian dengan menyingkirkan keegoisan diri, menggantikannya dengan kelapangan dada dan keikhlasan untuk tak selalu 'benar', tak selalu dominan, tak selalu memegang kendali, dalam menjalani peran baru dalam hidup.

Maka, di samping semua alasan baik untuk menikah, menikahlah juga dengan rasa cinta, dan dengan hati yang tulus. Naik-turunnya biduk rumah tangga hanya bisa bertahan jika kedua belah pihak berbagi cinta dari hati yang tulus. Jika kita menikah karena ingin menyenangkan orang lain, ketika orang yang ingin kita senangkan itu sudah tak ada, apakah kita masih akan bertahan? Jika kita menikah karena mengidamkan kemapanan, apakah jika suatu hari kemapanan itu goncang, kita masih akan bertahan? Jika kita menikah karena hendak memiliki anak, apakah jika anak tak kunjung hadir dalam pernikahan kita masih akan bertahan?

Jika demikian, menikah kemudian hanya menjadi ketidaknyamanan akan penantian berbagai harapan yang akan terwujud dan yang tidak: sebuah konsekuensi tentang kehidupan macam apa yang harus diterima dan dijalani setelah menikah.

Hidup memang tidak seindah dongeng yang selalu bisa berakhir bahagia dengan pasangan pilihan hati. Namun, bahagia adalah pilihan. Jadi, setidaknya mulailah segalanya, termasuk pernikahan, dengan cinta.

Setidaknya, jika segalanya memang harus berakhir, kamu tahu bahwa kamu sudah menjalani hidupmu dengan orang yang pernah sungguh-sungguh kamu cintai. Dan kamu tahu, bahwa kamu mampu mencintai seseorang dengan kekuatan yang sedemikian.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Menikah Berarti Sudah Menemukan Jodoh Kita?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Poetoe MadSu | @poetoemadsu

Seorang wanita yang berusaha menggapai mimpinya dengan berbagi kisah tanpa harus melepaskan harapan untuk merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Hidupku hidupmu. Tanpa bermaksud saling mematikan rasa.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar