664
Hidup yang penuh eksperimen ini telah membantu saya untuk melihat, untuk percaya, bahwa saya selalu memiliki pilihan, masing-masing dengan konsekuensinya sendiri.

Orang sering bilang saya beruntung, karena saya bisa melakukan begitu banyak hal. Jujur, saya memang merasa saya terberkati, seperti halnya semua orang di dunia ini.

Saya merasa terberkati bukan hanya karena saya memiliki kemewahan akan begitu banyak pilihan. Tetapi juga kemewahan untuk memiliki keberanian untuk memilih dan menerima akibatnya.

Saya rasa hal inilah yang suka hilang dari banyak orang. Kita kerap mengatakan kita tidak memiliki pilihan. Sebuah cara berpikir yang tanpa kita sadari sering membawa kita ke jalan yang serba terbatas.

Saya benar-benar percaya bahwa kita selalu memiliki pilihan. Masalah ketajaman kita untuk mendeteksinya, keberanian untuk memilihnya, dan integritas untuk menjalani konsekuensinya.

Namun baru beberapa minggu belakangan ini saya menyadari dari mana asal kepercayaan ini. Saat saya sedang pergi dan berbincang dengan seorang teman yang luar biasa. Dia berujar, "Kamu beruntung kamu punya orangtua yang membesarkanmu dengan kepercayaan seperti itu."

Dia benar. Sejak saat itu, bisa dikatakan bahwa setiap hari, selalu ada hal baru yang saya sadari: hal-hal yang Ibu dan Bapak telah lakukan kepada saya, untuk saya, sehingga membentuk saya menjadi seperti apa saya saat ini. Luar biasa.

Bapak saya, betapapun mengesalkannya dia ketika saya kecil *becanda, pa*, bersama dengan ibu saya yang penuh sabar dan cinta itu telah mengizinkan saya bertumbuh sesuai dengan keinginan saya, mencoba (hampir) semua hal yang ingin saya coba, dan merasakan konsekuensinya.

Saya punya pilihan. Saya memilih. Anda pun punya. Anda pun bisa.

Saya pernah membuat keputusan yang baik, pernah pula yang kurang menyenangkan. Tapi tak apa. Saya belajar dari pengalaman-pengalaman itu. Hidup yang penuh eksperimen ini telah membantu saya untuk melihat, untuk percaya, bahwa saya selalu memiliki pilihan, masing-masing dengan konsekuensinya sendiri.

Konsekuensi yang saya berani terima karena saya tahu konsekuensi itu dapat membuat saya melompat jauh. Hingga ke tempat saya berada saat ini. Ke tempat dimana saya bisa berada pada masa mendatang.

Dan untuk itu, saya berterima kasih pada Ibu dan Bapak saya. Terima kasih. Puji Syukur.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Memilih Itu Sebuah Kemewahan Tersendiri?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar