601
Apa kesamaan Rapunzel dengan kita? Sempat percaya dengan sang nenek sihir yang mengurungnya di menara tinggi. Menolak percaya bahwa dunia di luar sana indah. Menolak percaya bahwa dirinya luar biasa. Pernah?

Obrolan tentang Rapunzel ini mencuat tiba-tiba ketika seorang teman baik bercerita tentang retret perihal sudut pandang yang diikutinya baru-baru ini.

“Kadang kala, kita salah mengenali sebuah selang dengan ular,” ucapnya dengan senyum.

Saya diam dan menunggu.

“Ya, seperti Rapunzel, kita sering memandang dunia luar begitu kejam dan mengerikan,” sambungnya lagi.

“Lalu?” tanya saya.

“Dia percaya bahwa dirinya tak berharga dan tak layak dicintai--karena ucapan-ucapan dari sang nenek sihir. Sampai sang pangeran datang dan menyadarkannya.”

“Rapunzel butuh orang lain untuk menyadarkan betapa berharga dirinya?” saya bertanya, meyakinkan apa saya dengar tidak salah.

“Kurang lebih begitu,” ucap teman saya menutup diskusi.

"Bukti bahwa kita, manusia, adalah makhluk sosial...” saya menambahkan.

Diskusi itu berakhir, namun cerita tentang Rapunzel tak pernah lagi sama di kepala saya.

Putri Rapunzel dan nenek sihir ini bisa merupa apa saja. Bisa saja sang nenek sihir ini sosok manusia yang terus mengatakan hal-hal negatif tentang kita. Bisa juga mereka yang tanpa sengaja mengeluarkan kata-kata sensitif. Atau bahkan nenek sihir ini adalah orang tua, sahabat, guru, bahkan diri kita sendiri?

Bukankah kita selalu berubah menjadi orang paling kejam ketika menghakimi diri sendiri?

Seringkali, kita menghukum diri untuk hal-hal yang tak mungkin bisa kita ubah. Mengurung diri dalam sebuah menara tinggi dan memandang dunia dengan picik akibat hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu. Mengenali sebuah selang sebagai ular hanya karena kita memandangnya dari jauh; dan enggan mendekat karena takut.

Sama halnya dengan pangeran yang juga bisa merupa siapa saja. Kadang kala, pangeran adalah lagu dari band idola, perkataan saudara, teman, sahabat atau bahkan orang asing yang kebetulan melintas? Sebaris kalimat yang tak sengaja kita baca dalam sebuah buku.

Untuk kita yang sedang berada dalam tahap Rapunzel, setidaknya, biarkan jendela tetap terbuka. Biarkan sepetak dunia luar tetap terlihat. Kalau-kalau rambut keyakinanmu sudah cukup panjang, kamu bisa melangkah meninggalkan menara tinggi itu kapan saja.

Bahkan sekarang sekalipun.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Kita Sering Berperan Seperti Putri Rapunzel?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

???????????????????? betul juga. Menarik dan inspiratif.