1.6K
Melepaskan diri dari kerumitan diawali dari perjalanan ke dalam diri. Dari dialog-dialog tentang apa yang sesungguhnya benar-benar penting dalam hidup. Melepaskan kerumitan berarti mendengarkan suara hati dan dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai hidup dan keyakinan yang selama ini menjadi pelita penuntun ketika tengah berada di persimpangan.

Kehidupan manusia rentan dengan drama.

Setiap saat, jika tidak awas, kita berpindah dari satu drama ke drama lainnya, dan jika tidak berhati-hati melakonkan peran kita pada setiap adegan, kita bisa berakhir pada kerumitan yang luar biasa.

Sejak dua tahun lalu saya pindah ke kota yang jauh lebih kecil bersama kedua anak saya. Berbeda jauh dengan kota yang kami tinggali selama bertahun-tahun sebelumnya, di kota ini tidak ada jaringan toko buku besar apalagi pusat perbelanjaan modern dengan aneka gerai dan pusat kuliner. Saya juga mengurangi banyak pekerjaan yang membuat saya mesti bepergian ke luar kota. Selain melelahkan, saya juga ingin lebih mencurahkan segenap fokus dan tenaga kepada anak-anak. Ada banyak penyesuaian yang harus saya dan anak-anak lakukan, namun saya berharap segala sesuatu yang nampak lebih sederhana ini akan membawa lebih banyak kebahagiaan dan ketenangan yang lebih dalam.

Namun ternyata, tidak seperti yang saya bayangkan, kesederhanaan yang saya hadapi sifatnya semu.

Tinggal di kota yang lebih kecil tidak membuat timbunan pekerjaan berkurang. Tak jarang saya pulang ke rumah dalam keadaan lelah luar biasa. Belum lagi gesekan dan konflik yang beberapa kali saya hadapi dalam berbagai bentuk relasi. Sama sekali tidak sederhana. Alih-alih merasakan ketenangan dan kebahagiaan, saya merasakan kekecewaan yang bertubi-tubi. Saya sampai jatuh sakit karenanya.

Sampai kemudian setelah mengalami pendarahan untuk kesekian kalinya meskipun untuk kesekian kalinya pula dokter spesialis kandungan mengatakan tak ada yang salah dengan rahim saya, barulah saya memutuskan untuk mengambil jarak. Saya tidak ingin hidup terus menerus dengan cara seperti ini. Keterlibatan yang terlampau dalam pada banyak hal membuat saya menderita, fisik maupun mental.

Saya selalu ingin segala sesuatunya berjalan baik, bahkan sempurna, jika memang memungkinkan.

Ketika bekerja atau menjalin relasi dengan siapapun, saya selalu all out. Terlibat penuh. Saya berharap orang lain pun melakukan hal yang sama. Tetapi, yang saya pun sebenarnya sudah sadari, respon orang lain adalah di luar kontrol kita. Demikian pula perubahan suasana dan situasi.

Ilusi saya yang terkuat adalah bahwa saya bisa mengontrol segala sesuatunya, padahal sebenarnya itu omong-kosong belaka. Ketika saya mendapat reaksi atau respon yang jauh di luar dugaan, saya menjadi sedih dan menyalahkan diri. Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan yang telah direncanakan padahal saya sudah mengerahkan segala daya upaya, bukannya berhenti, saya malah bekerja lebih keras lagi, bahkan cenderung membabi buta.

Bisa ditebak, ending-nya justru kekacauan dan perasaan saya yang kusut-masai.

Hari yang berganti dan umur yang bertambah membuat saya berpikir bahwa saya tak dapat menjalani hidup macam begini terus-menerus.

Kesederhanaan ternyata bukanlah bergantung pada di mana kita tinggal, tetapi dari pikiran.

Pikiran saya yang njelimet, penuh tuntutan dan kritiklah yang membuat saya terjebak dalam kerumitan. Saya sadari bahwa saya tak dapat memilih drama apa yang mesti saya hadapi setiap hari, tetapi respon saya atas peran yang mesti saya mainkan, ada di bawah kendali saya sepenuhnya.

Lalu saya mulai belajar berkomitmen untuk melepaskan diri dari kerumitan.

Rumit, bagi saya, adalah ketika segala sesuatunya menjadi sedemikian sulit dan cenderung dipaksakan. Bukan berarti saya berhenti berupaya dan bekerja keras, namun ketika setelah segala kerja keras masih belum menunjukkan titik terang, saya memutuskan untuk tidak menaikkan levelnya ke level ngotot.

Melepaskan diri dari kerumitan diawali dari perjalanan ke dalam diri dan melakukan dialog-dialog tentang apa yang sesungguhnya benar-benar penting dalam hidup saya.

Perjalanan dan dialog tersebut menyadarkan saya betapa drama-drama yang kita mainkan setiap hari menjauhkan dari apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Keinginan untuk diterima dan disukai, keinginan untuk berkuasa, keinginan untuk menjadi yang terdepan, keinginan untuk disanjung dan dipuja kerapkali mengalahkan keinginan untuk hidup jujur dan mulia, tenang dan bahagia.

Saya berpindah dari satu kegelisahan ke kegelisahan lainnya, dari satu kekosongan ke kekosongan lain, dari satu kesedihan ke kesedihan berikutnya.

Melepaskan kerumitan berarti memprioritaskan pada yang benar-benar penting, sehingga energi juga lebih terfokus pada satu hal saja dalam satu waktu, alih-alih pada banyak hal sekaligus, yang bermuara pada meningkatnya stress.

Melepaskan kerumitan berarti mendengarkan suara hati dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai hidup dan keyakinan yang selama ini menjadi pelita penuntun ketika tengah berada dalam persimpangan. Konflik yang paling melelahkan sejatinya bukanlah konflik dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri. Cedera yang paling memilukan justru adalah ketika kita mengingkari kebenaran-kebenaran yang dibisikkan oleh nurani terdalam. Gabungan keduanya adalah kerumitan level tertinggi yang paling sulit untuk diurai.

Setiap manusia pada dasarnya memiliki perjalanannya masing-masing.

Kerumitan terjadi ketika kita berusaha melakukan perjalanan orang lain, atau kita membiarkan orang lain terlalu banyak mencampuri setiap langkah dan arah yang sedang kita tapaki.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kapan Kita Siap Melepaskan Kerumitan Hidup?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

PR Ujianti | @puturahayuujianti

A mother, a father, a teacher, a writer, and a seeker

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar