3.8K
Saya menyadari bahwa kata ‘maaf’ saya merupakan gejala dari ketakutan irasional yang saya miliki, yaitu ketakutan akan dimarahi, dibenci, dan kehilangan.

Ketika kita kecil, umumnya kita akan diajarkan setidaknya tiga kata ajaib, yaitu 'tolong', 'terima kasih', dan 'maaf'.

Menurut saya, kepentingan ketiga kata tersebut memang tidak dapat diperdebatkan, dan perlu digunakan di saat-saat mereka dibutuhkan. Namun saking hebatnya ibu saya dalam mengimplementasikan standar kesopanan tersebut, saya mengucapkannya secara nyaris otomatis dalam begitu banyak keadaan, termasuk pada saat-saat kata-kata tersebut tidak dibutuhkan.

Hal ini terbukti ketika saya seringkali mengucapkan 'terima kasih' kepada orang yang saya tolong—seolah saya menyindir orang tersebut yang belum berterima kasih.

Saya pun memiliki krisis surplus kata 'maaf'.

Begitu mudahnya saya melontarkan kata maaf. Tidak hanya pada orang yang tidak sengaja saya tabrak, atau pada saat saya melakukan kesalahan. Saya meminta maaf setiap kali saya berasumsi bahwa saya telah melakukan kesalahan. Contohnya, setelah saya mengucapkan sesuatu yang mungkin saja salah, saya akan langsung melontarkan kata maaf.

Saya akhirnya menyadari bahwa saya sering menggunakan kata ‘maaf’ untuk berusaha menghentikan atau mencegah kemarahan orang. Setiap kali lawan bicara saya berubah raut muka, saya mendadak panik dan langsung meminta maaf—padahal belum tentu ia akan marah.

Apalagi bila lawan bicara saya adalah orang yang saya nilai penting dalam hidup saya, akan semakin besar dorongan dalam diri saya untuk meminta maaf, karena semakin besar pula ketakukan saya akan dimarahi dan entah kenapa, sampai-sampai muncul ketakutan bahwa saya akan ditinggalkan.

Seseorang yang seperti itu pernah mengatakan pada saya bahwa ia tidak senang mendengar saya begitu sering meminta maaf.

Saya pun panik mendengarnya berkata begitu, karena kali ini saya tidak bisa meminta maaf—meminta maaf karena telah meminta maaf. Namun yang jelas saya tidak membela diri. Menurut saya memang tidak ada patokan benar dan salah pada kasus ini. Teman saya ini benar, bahwa kata ‘maaf’ akan kehilangan ketulusannya bila terlalu sering diucapkan.

Saya harus menerima kenyataan bahwa bagi orang-orang yang telah saya mintai maaf sebelumnya, kata maaf yang saya ucapkan tidak bernilai mahal karena begitu mudah didapat. Saya pun menyadari ini ketika saya menghadapi situasi-situasi di mana kata ‘maaf’ sangat dibutuhkan.

Seperti saat saya harus gagal menghadiri sebuah acara penting dan hendak memohon maaf karenanya. Walaupun dalam diri saya, saya merasa sungguh-sungguh bersalah dan dengan tulus ingin memohon diberi maaf, kata ‘maaf’ yang saya ucapkan masih terdengar sama dengan kata ‘maaf’ yang saya ucapkan ketika saya tertawa terlalu keras atau ketika saya tidak sengaja menyenggol orang di samping saya.

Saya menyadari bahwa kata ‘maaf’ saya merupakan gejala dari ketakutan irasional yang saya miliki, yaitu ketakutan akan dimarahi, dibenci, dan kehilangan.

‘Maaf’ muncul begitu mudah dari mulut-mulut orang yang merasa butuh dilepaskan dari kewajiban bertanggung jawab atas perbuatannya. Maka saya berpikir bahwa memang kata ‘maaf’ dapat datang untuk alasan-alasan yang tidak sepenuhnya altruis—bahkan cenderung egois.

Namun saya juga akan membela bahwa kata ‘maaf’ yang egois sekalipun dapat menjadi kata ‘maaf’ yang tulus. Karena walaupun ketakukan yang mendorong beberapa orang meminta maaf tidak rasional, bukan berarti ketakutan itu tidak nyata bagi sang pengucap kata ‘maaf’ dan bukan berarti keinginan putus asa untuk menyambung hubungan dengan jembatan kata ‘maaf’ merupakan hal yang tidak patut dihargai.

Perhatikan kata ‘maaf’ kita, dan semoga kita dapat memaafkan diri kita dari kesalahan—yang belum pasti salah—sebelum meminta maaf karena takut.

Sorry for being sorry.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Kata "Maaf" Bisa Jadi Jelmaan Rasa Takut Kita untuk Tidak Diterima?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

bagus nih infonya saya suka, tapi saya lebih suka update harga emas hari ini