1.9K
Jatuh cinta dan menaruh hati pada seseorang yang memang telah mengampu peran dalam kehidupan kita sehari-hari memang terdengar sangat alami.

Kita sering mendengar tentang orang-orang yang jatuh cinta karena terbiasa.

Saya percaya, bagi sebagian orang hal tersebut benar adanya. Tapi bagi saya, ada perbedaan antara jatuh cinta dan mencintai. Maka, jatuh cinta dan menaruh hati pada seseorang yang memang telah mengampu peran dalam kehidupan kita sehari-hari memang terdengar sangat alami, namun mungkin tidak semudah yang dibayangkan.

Tentunya tidak banyak yang lebih menyenangkan dari melakukan hal-hal yang kita sukai dengan orang yang kita cintai.

Pada awalnya, kita bahagia karena hidup terasa mudah. Setiap kita sedih atau bosan, kita tahu apa yang bisa kita lakukan dan siapa yang bisa kita ajak untuk menemani melakukannya. Ketika hal ini terjadi pada saya, saya merasa untuk pertama kalinya dalam hidup, saya stabil secara emosional.

Saya sering merasa senang, saya tenang di sebagian besar waktu, dan kalaupun saya sedih, saya tahu kepada siapa saya bisa meminta kesedihan itu diobati. Hal ini dapat berlangsung sangat lama. Karena tidak mudah meninggalkan kebiasaan, maka tidak mudah pula meninggalkan orang ini.

Lambat laun, tempat-tempat dan hal-hal yang saya sukai tidak sebegitu menarik lagi. Tempat-tempat itu masih menjadi tempat-tempat yang paling ingin saya kunjungi dibandingkan tempat-tempat lain, dan hal-hal yang saya lakukan di sana tak pernah gagal membuat saya merasa baik.

Namun, ada sesuatu yang mengganggu. Bukan karena seolah ada yang salah, namun justru karena tidak ada apa-apa. Bukan berarti saya menginginkan ada guncangan pada hubungan kami, saya hanya takut akan datangnya kebosanan.

Ternyata bukan kebosanan yang terjadi—sungguh tidak sesederhana dan sedangkal itu.

Namun muncul kebiasaan baru dalam diri saya. Saya bertanya-tanya, tapi saya bahkan tidak yakin pertanyaannya apa. Saya tetap berlindung pada kehangatan yang telah saya dapatkan, sekaligus bersembunyi dari kenyataan bahwa api yang membawa kehangatan ini dapat meredup.

Apakah saya ingin meninggalkan semua ini? Tidak juga.

Saya pun tidak bermaksud mengembalikan antusiasme yang pernah saya rasakan terhadap orang ini, karena saya tidak mau menginginkan hal yang naif. Tetapi sepertinya saya mencemaskan apa yang akan terjadi setelah ini. Karena ketika suatu kebiasaan sudah berjalan dalam pola yang sama dan untuk waktu yang panjang, hanya pola itulah yang kita kenal.

Apa jadinya bila pola tersebut terhenti, atau berubah? Hal baru macam apa yang akan saya hadapi?

Sepertinya saya takut.

Dari semua hal yang menakutkan saya, yang paling membuat saya ngeri adalah apa yang ada di kepala orang ini. Mungkin bagi saya tidak ada masalah, hanya sekadar kerinduan akan kebahagiaan dengan rasa yang biasa, tapi mungkinkah bagi dia ini adalah suatu kebosanan?

Atau lebih lagi, akankah ia mencari kebahagiaan lain?

Bersama dengan pemikiran itu, lahirlah kesedihan yang tumbuh begitu cepat dan menjadi begitu besar. Lalu saya mulai berpikir. Mungkin saat di mana semua ini berakhir akan segera datang. Bila ya, maka saya tahu sakitnya tidak akan seberapa, namun akan berlangsung lama.

Tidak akan banyak kesedihan, namun saya akan dipenuhi kekosongan. Mungkin seperti ditusuk, namun tidak mati. Lukanya akan ada, tapi akan mengering juga.

Ketika kita telah mencintai seseorang sangat lama, kita lupa apa yang sebenarnya kita rasakan—bahkan tidak tahu. Rasanya, kenyamanan yang diberikan bantal saya ketika sarungnya masih dingin masih lebih nyaman dari perasaan saya saat bersamanya—walaupun mereka tidak bisa saling menggantikan.

Bagi logika, kebosanan atau perasaan stagnan ini menuntut kita mencari kebahagiaan lain, namun bagi hati yang telah terbiasa, jalan keluar justru sangat dihindari. Sulit bagi saya untuk meraba kebahagiaan-kebahagiaan lama dan merasakan hal yang sama.

Sayangnya, lebih sulit lagi untuk mencari kebahagiaan serupa, apalagi melepaskan yang sudah menjadi kebiasaan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apakah Cinta Terasa 'Mudah' Hanya Karena Kita Terlalu Terbiasa?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar