2.1K
Jika ada yang bertanya, sesulit itukah membuka diri dan mengungkapkan keresahanmu? Jawabannya: Yes, it is.

Siapa sih yang ingin kelihatan lemah di depan orang lain?

Setiap orang ingin dilihat kalau hidupnya baik-baik saja, bahagia-bahagia saja.

So do I.

Mungkin ada beberapa yang merasa hal semacam ini mudah untuk dilakukan. Tapi bagi saya, dan bagi sebagian orang yang lain, hal ini tidak mudah buat dilakukan.

Apa yang membuatnya paling tidak mudah?

Mengalahkan ego sendiri untuk mengakui kelemahan kita.

Mengatakan bahwa kita sedang merasa tidak baik-baik saja dan kita sebenarnya membutuhkan bantuan.

Then it happens… momen di mana saya membuka diri, membuka segalanya. Melihat apa saja kelemahan saya. Apa yang berkecamuk dalam pikiran saya, apa yang membuat saya takut, apa yang membuat saya sedih dan hancur. Saya membuka semua lapisannya, satu per satu, lalu menangis akan segalanya: sesuatu yang jarang sekali saya lakukan.

Yang terjadi selanjutnya adalah perasaan yang bercampur aduk.

Saya merasa lelah sekali.

Energi saya terkuras habis. Sampai pada detik ini, saya masih merasakannya. Namun, saya paham bahwa sebenarnya kelelahan yang saya rasakan ini adalah perasaan sedih dan kecewa yang sudah lama saya tumpuk dan saya abaikan. Ketika saya mencoba untuk mengeluarkannya, yang cenderung tidak mudah, saya jadi kehabisan energi.

Saya teringat pesan dari seorang Kakak tentang proses ini.

Katanya:

Ketika seseorang terluka, ia akan cenderung melindungi dirinya dari perasaan sakit yang sama, agar tidak terulang. Biasanya, yang dilakukan adalah dengan menutupi luka itu rapat-rapat, padahal kita sendiri belum tahu apa dan bagaimana luka itu.

Bisa jadi, ketika kita menutup luka itu rapat-rapat, bukannya sembuh, luka itu malah makin parah. Terkadang, kita perlu membuka luka kita, menyadarinya, merawatnya, agar ia bisa lekas pulih.

Dan inilah yang sedang saya lakukan sekarang: berusaha untuk menyadari luka dan merawatnya, meski terasa tidak mudah.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi setelah saya mengakui kelemahan saya?

Saya jadi lebih mengerti diri saya sendiri. Saya jadi belajar untuk bisa menerima diri sendiri, bahwa, ya, memang ada beberapa hal yang membuat saya bisa sedih dan terluka. Ada beberapa hal yang menjadi kelemahan saya. Ada saatnya juga saya membutuhkan bantuan orang lain.

Saya baru sadar bahwa meminta bantuan orang lain bukanlah tanda kelemahan. Karena dibutuhkan kekuatan besar untuk mengalahkan ego dan kebanggaan semu dalam diri untuk berkata: saya tidak bisa. Saya butuh bantuan. Ya, meminta bantuan orang lain juga sebentuk kekuatan yang datang ketika kita sadar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita lalui sendirian. Dan ini tak mengapa.

Apakah kesadaran ini membuat saya merasa lebih baik? Iya, saya merasakan itu.

Saya merasa jauh lebih menghargai diri sendiri. Saya merasa lebih jujur dan terbuka bahkan kepada diri saya sendiri. Dan kepada diri saya sendiri, terima kasih karena sudah mau mengakui kelemahanmu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apa yang Terjadi Ketika Kita Mengakui Kelemahan Kita?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Nisrinays | @nisrinaputri

A mellow real life writer at putrinisrina.blogspot.com.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar