2.8K
Kenapa sih saya terlahir di keluarga yang serba terbatas ekonominya seperti ini? Kenapa saya tidak bisa seperti teman-teman saya yang lain? Yang sibuk ikut bimbingan belajar dan les di sana-sini demi mendapatkan universitas impian.

Di saat semua orang mendambakan SBMPTN undangan, saya menolaknya.

Guru saya kaget. Saya pun menjelaskan kepada beliau, bahwa saat semester terakhir kelas 12 SMA itu, keadaan ekonomi keluarga pada saat itu tidak memungkinkan saya untuk kuliah di perguruan tinggi negeri.

Ditambah lagi, saat itu adik saya tidak diterima masuk SMA negeri sehingga saya harus mengalah dan membiarkan dia mendaftar di SMA swasta yang biayanya cukup mahal.

Akankah cita-cita ini kandas?

Tidak Ada yang Tahu

Guru saya kembali bertanya, “Kamu yakin? Semua orang berjuang buat masuk universitas itu, lho.”

Teman-teman saya tidak banyak yang tahu. Bahkan orang tua saya pun tidak tahu keputusan yang saya ambil ini.

Satu-satunya yang tahu dan bisa memahami hanyalah teman baik saya, Riana. Setelah mendengar kisah saya, dia langsung merekomendasikan saya untuk mendaftar kuliah di salah satu lembaga pendidikan tinggi negeri dengan biaya yang lebih terjangkau.

Namun, itu berarti saya harus menerima dengan gelar diploma tiga “saja” dari perguruan tinggi tersebut.

Kecewa dan amarah sempat saya rasakan. Kenapa sih saya terlahir di keluarga yang serba terbatas ekonominya seperti ini? Begitu batin saya saat itu. Kenapa saya tidak bisa seperti teman-teman saya yang lain? Yang sibuk ikut bimbingan belajar dan les di sana-sini demi mendapatkan universitas impian. Yang bebas memilih, ingin kuliah di mana dan jurusan apa, tanpa harus memikirkan keadaan ekonomi keluarga.

Keputusan ini penting karena hal ini cukup mempengaruhi karier saya ke depannya. Dan betul saja, ketika melamar kerja, kebanyakan lowongan kerja mensyaratkan pendidikan minimal strata satu untuk para lulusan baru. Penolakan demi penolakan pun saya ladeni saat wawancara kerja, yang kemungkinan salah satu penyebabnya adalah gelar D-3 saya.

Mengalami serangkaian penolakan, seringkali mengantarkan saya pada rasa sesal akan keputusan saya di masa lalu. Saya pun kembali mengambinghitamkan satu hal lainnya, yakni sistem pendidikan tanah air yang kian mengagungkan gelar pendidikan.

Namun, menyesal dan hanya meratapi nasib bukanlah pilihan. Dan kehidupan akan terus berjalan.

Penolakan yang Menguatkan

Meskipun keadaan tidak terlihat mendukung, meskipun segala penolakan sudah kurasakan, pada akhirnya, hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Pada akhirnya, selain tangan Tuhan, kita sendirilah yang bekerja menentukan arah nasib kita. Menjadi lulusan diploma di dunia kerja yang menuntut kita untuk menjadi lulusan strata satu, memaksa saya untuk berlari, di saat yang lain hanya perlu berjalan kaki.

Pada akhirnya, saya pun memulai hari pertama sebagai karyawan yang bergerak di perusahaan kreatif yang menerima saya.

Pada masa-masa awal saya bekerja inilah, saya merasakan sendiri perjuangan mencari nafkah. Setiap kali terasa ingin menyerah, terbayang wajah ibu dan ayah yang sempat saya salahkan atas kurangnya keadaan saya saat ini. Terbayang saat-saat mereka bekerja, mengerahkan seluruh tenaga hanya untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga.

Pantaskah saya menyalahkan mereka?

Seiring dengan berjalannya waktu, keterbatasan ini mengajak saya berdamai dan menerima keadaan. Saat ini, bukan lagi saatnya menyalahkan orang lain terhadap hal-hal yang terjadi pada hidup saya, melainkan diri saya sendirilah yang bertanggung jawab akan keputusan yang saya ambil.

Apa yang membatasi impianmu saat ini? Uang, atau gelar pendidikan?

Bisa jadi, sebenarnya pembatas-pembatas itu tidak ada. Mungkin saja, tembok penghalang itu hanyalah fiksi belaka.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Apa yang Membatasi Impianmu Saat Ini dan Menghentikan Dirimu untuk Mengejarnya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Adinda S. Rahayu | @aelensar

Suka menggambar di Instagram: @adindaxtron

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar