7.5K
Terkadang melepaskan diri dari berbagai embel-embel jabatan, pekerjaan atau latar belakang pendidikan itu perlu. Bukan karena merasa keberatan dengan amanah yang sudah didapatkan, tapi demi membuat kita dapat berpikir lebih jernih dan sederhana.

“Nis, Aku harus gimana, ya?”

Seorang teman tiba-tiba mendatangi saya dengan raut muka gelisah.

Singkat cerita, saat itu teman saya sedang kebingungan. Ada orang yang meminta bertemu dengannya karena orang itu memiliki keinginan untuk bunuh diri. Teman saya tidak terlalu dekat dengan orang ini, namun orang yang akan ia temui begitu percaya dengannya karena ia belajar Psikologi.

“Aku nggak tau harus gimana. Takut salah ngomong,” kata teman saya.

Saya menganjurkan dia untuk tetap menemui siapapun orangnya, walau dalam hati saya pun takut kalau langkah yang kami ambil kurang tepat. Apalagi untuk penanganan orang yang memiliki keinginan bunuh diri: salah langkah, akibatnya bisa fatal.

Pada akhirnya, teman saya memutuskan untuk menemui senior yang kami kenal. Kami sama-sama bingung bagaimana harusnya bersikap jika ada orang yang menceritakan masalah serius, apalagi terkait keinginan bunuh diri.

Rasanya, empat tahun belajar Ilmu Psikologi belum cukup membuat kami percaya diri dengan kemampuan kami untuk memberikan konsultasi sederhana.

“Kadang yang perlu kita lakukan adalah menjadi manusia biasa.”

Jawaban itulah yang kami dapatkan saat menceritakan kegelisahan kami pada senior kami yang sudah menjadi Psikolog. Diantara berbagai kemungkinan tanggapan yang akan saya dengar, saya tidak menyangka jawaban itu yang akan kami dapatkan.

Katanya lagi:

“Kita seperti merasa punya tanggung jawab ya, dengan ilmu dan titel yang sudah kita punya. Apalagi sebagai orang yang belajar Psikologi. Rasanya kalau ada orang yang datang untuk curhat ke kita, ada keinginan untuk memberikan solusi dan membantunya “lebih banyak”. Padahal, seringnya yang dibutuhkan orang adalah teman bercerita yang mau mendengarkan.”

Pada akhirnya, senior kami menyarankan teman saya untuk tetap menemui orang itu dan menanggapi sesuai kapasitas yang ia punya. Kalau memang dirasa perlu penanganan yang lebih serius, baru teman saya dapat mengarahkan untuk konsultasi pada Psikolog atau bahkan Psikiater.

“Kamu kan anak Psikologi, harusnya bisa…”

Orang yang belajar Psikologi pasti akan sering mendengar komentar ini.

Adanya ekspektasi yang besar dari orang lain untuk dapat lebih memahami orang lain, mulai dari membaca kepribadian hingga menjadi orang yang “bijaksana” terkadang membuat saya merasa tidak ingin memberitahukan background pendidikan saya.

Kenyataanya, bukan hanya orang lain yang memberikan harapan tentang latar belakang pendidikan saya. Diri saya sendiri juga tanpa sadar memberikan tuntutan yang sama.

Selama ini, tiap kali ada orang yang menceritakan masalah pribadinya, saya berusaha menempatkan diri sebagai seorang yang belajar Psikologi. Saya berusaha keras untuk memberikan solusi yang efektif bagi mereka hingga tanpa sadar saya merasa kelelahan. Bukan, bukan karena saya tidak menyukainya. Tapi lebih karena keinginan saya untuk tidak “mengecewakan” orang yang sudah menceritakan masalah pribadinya pada saya.

Terkadang melepaskan diri dari berbagai embel-embel jabatan, pekerjaan atau latar belakang pendidikan itu perlu.

Bukan karena merasa keberatan dengan tanggung jawab yang sudah diberikan, tapi demi membuat kita dapat berpikir lebih jernih dan sederhana.

Sebab, seringnya masalah yang kita hadapi di dunia ini adalah tentang bagaimana kita bersikap sebagai manusia biasa yang peduli pada orang lain. Manusia biasa yang memiliki keinginan untuk membantu orang lain dan menghargai orang lain. Manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia biasa yang: bisa salah, bisa tidak sempurna, dan bisa berkata jujur bahwa kita tidak mampu dan kadang juga membutuhkan bantuan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "'Anak Psikologi' Terkadang Juga Perlu Menjadi 'Manusia Biasa'". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Nisrinays | @nisrinaputri

A mellow real life writer at putrinisrina.com. A romance lover writer at sembarimenungguhujanreda.blogspot.com.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar