622
Saya sadar, yang harus saya ubah adalah sikap saya sendiri. Saya perlu berkaca pada anak, karena ia hanya meniru apa yang dilihatnya.

Coba saya pandangi, setiap detail di wajahnya. Rambutnya ikal seperti saya, dahinya lebar seperti ayahnya. Matanya seperti saya dengan bulu mata panjang yang berantakan tapi lentik seperti ayahnya. Alisnya seperti ayahnya, hidung dan pipinya seperti saya. Bibirnya mungil, dagunya membelah persis seperti saya.

Oke, anak pertamaku ini cantik dan saya berharap ia menjadi anak yang solehah. Amin.

Sudah sampai sini saja?

Tidak.

Saya coba pandangi wajahnya saat ia terbangun. Kemudian menyambar handphone lalu ketika saya mengingatkannya untuk mandi, ia menjawab nanti. Makan dulu sayang, dijawab juga nanti.

"Mau berangkat sekolah nggak, sih?" nada saya mulai meninggi.

Kemudian, serangan kata-kata meluncur dari bibir saya dengan mata melotot. Entah, mungkin karena wajah saya berubah menyeramkan, karena wajah anak saya pun jadi demikian. Tidak menjawab, tapi matanya melirik tajam, seolah tidak terima dengan bentakan saya.

Saya pandangi lagi anak saya itu. Saya mencoba menggunakan kata yang baik disertai pelukan dan kecupan di keningnya. Anak saya menolak. Hancur!

Hati saya hancur.

Ternyata semarah itu anak saya. Persis seperti saya, yang satu menit yang lalu telah berkobar api amarahnya.

Lebih hancur lagi, ketika pada suatu hari saya mengabaikan permintaannya untuk melewati jalan pulang yang ia mau. Sepanjang jalan, ia tak henti marah-marah meski sudah saya jelaskan bahwa jalan yang ingin ia lewati terlalu jauh dan kendaraan sudah terlanjur berada di tengah jalan yang ia tak mau lewati. Sulit untuk berputar arah untuk kembali.

Marahnya masih berlanjut hingga sampai di rumah. Pintu kamar ia banting, ia menjerit-jerit dan memukul-mukul saya. Saya sadar saya tidak harus membalasnya, ataupun menenangkannya. Saya biarkan dulu ia menyalurkan amarahnya, dan mencoba mendengarkan apa yang ia mau.

Saya sungguh tidak mengatakan apapun, tapi ia berteriak, "DIAM!" kepada saya.

Terbayang, pada saat saya memarahinya, saya sepertinya tidak pernah memberinya kesempatan berbicara.

Ia harus menurut, jika tidak, ancamanlah yang keluar dari mulut saya.

Lalu, salah siapa jika ia begini?

Ia berteriak, "Kalau Ibu nggak mau lewat jalan situ, Ibu aku hukum! Tidak boleh kerja!”

Saya masih memandanginya dan menjawab, "Iya, Sayang, Ibu minta maaf, ya.”

Tak semudah itu ternyata ia memaafkan saya. Semua ini sudah terlanjur, saya ingin memperbaiki... tapi mulai dari mana? Saya bingung. Mata saya tiba-tiba berkaca-kaca. Saya yang salah.

“Pokoknya Ibu nggak boleh kerja! Sabtu Minggu Ibu nggak boleh kerja!”

Saya kembali tersentak. Itu kan pernyataannya sekitar satu atau dua tahun yang lalu!

Saat itu, saya masih bekerja di ranah publik. Saya bekerja enam hari dalam seminggu. Jika hari Minggu saya masuk kerja, maka saya diperbolehkan mengambil libur di hari lainnya. Dulu, saya selelu mengambil jatah libur di hari Sabtu, karena suami saya juga sama-sama libur. Setidaknya, kami bisa saling bertukar pikiran, bercanda seharian, dan menikmati waktu bersama anak. Tapi, mungkin ada satu dan lain hal yang kemudian membuat kebijakan ini berubah. Saya boleh mengambil libur selain hari Sabtu, kemudian berubah lagi: hari apa saja--yang penting tidak ada yang mengambil hari libur pada hari yang sama.

Ya, memang pernah anak saya protes. Kenapa Ayah libur tapi Ibu berangkat? Kenapa hari Minggu Ibu berangkat?

Sampai pada suatu waktu, ia mengunci pintu kamar saya agar saya tidak bisa berangkat kerja.

Sedalam itu ternyata keinginannya untuk selalu bersama saya, ibunya.

Mungkin, dengan tetap berangkat kerja tanpa mempertimbangkan keberatannya atau berdialog dari hati ke hati dengannya hingga pengertian tertanamkan, anak saya merasa diabaikan. Tak heran jika kemudian ia mengabaikan saya jika saya memintanya melakukan sesuatu.

Jika saya merasa ia tak menuruti kemauan saya, saya marah dan membentaknya, bahkan mengancam dengan hukuman. Anak saya pun berlaku sama. Jika kemauannya tak dituruti, ia bisa marah, membentak, dengan mengancam.

Pipi saya mulai basah. Saya menyesal.

Saya baru sadar, bahwa jika saya ingin anak saya berlaku seperti yang saya inginkan, yang harus saya ubah adalah sikap saya sendiri. Saya harus berubah jika saya ingin melihat anak saya berperilaku lebih baik, saya harus bisa memproses emosi saya dengan lebih baik, jika saya ingin anak saya juga bisa belajar mengekspresikan emosinya dengan lebih baik.

Saya merasa berkaca pada anak merupakan pengingat paling baik untuk meningkatkan kualitas diri saya sebagai pribadi, maupun sebagai orang tua.

Saya sadar, anak saya hanya belajar meniru apa yang dilihatnya. Dan melihat bagaimana anak saya berperilaku merupakan cerminan bagi saya mengenai bagaimana saya berperilaku.

Apakah ini perilaku yang hendak saya pertahankan, atau saya singkirkan pelan-pelan?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Anak Hanya Meniru. Agar Ia Meniru yang Baik, Ubahlah Cara Kita Menjadi Baik.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ayu Candra Giniarti | @marthalenabutikbajuk

Menulis dengan hati dan merasakan dengan kata. Ketika aku menggabungkan kedua unsur tersebut, ada rasa bahagia yang mencuat dari otak kemudian menjalar ke hati.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar