4K
Menyerah memang terlihat mudah, tapi bertahan memerlukan kekuatan lebih. Dan seringkali, kekuatan itu datang dari memiliki seseorang yang sungguh-sungguh kita sayangi.

Sejak kecil, saya terbiasa 'dibanding-bandingkan'.

Ini membuat saya tak pernah terlalu bersemangat jika harus menghadiri acara-acara keluarga. Ketika anggota keluarga berkumpul, entah bagaimana, sepertinya selalu ada saja perbicangan yang 'memperbandingkan'. Masing-masing orangtua akan mulai sibuk membandingkan anaknya sendiri dengan yang lain: mulai dari fisiknya, kebiasaannya, hingga prestasinya.

Saya seringkali mendengar bagaimana Tante saya dengan ringannya mengejek anak dari adik atau kakaknnya, yang notabene adalah keponakannya sendiri. Sambil tertawa, seolah-olah yang dikatakannya benar-benar lucu, ia akan berujar," Anak saya lebih tinggi, ya!" atau "Anak saya sih tidak cengeng. Digendong siapa pun mau. TIdak seperti anak kamu."

Kegiatan membanding-bandingkan ini seringkali membuat saya geram. Tapi mungkin saya masih bisa menerimanya. Toh, bukan saya yang diperbandingkan. Ya, kan?

Tidak.

Saya tak bisa menutup hati begitu saja ketika melihat adik-adik sepupu saya yang masih kecil-kecil menerima perlakuan seperti itu. Saya tahu bagaimana hal-hal kecil yang dianggap 'lucu' dan 'cuma bercanda' ini bisa memengaruhi kepribadian dan kepercayaan diri seseorang saat ia besar nanti.

Ya, saya tahu. Karena saya mengalaminya.

Hidup di bawah lindungan Ibu yang otoriter dan Ayah yang pendiam bukan hal yang mudah. Saya dan kakak perempuan saya satu-satunya, kerap dibanding-bandingkan satu sama lain. Saat memarahi saya, misalnya, Ibu akan memuji Kakak--yang dianggapnya tak pernah melakukan hal-hal buruk yang saya lakukan. Begitu pula sebaliknya, kakak saya akan dihina habis-habisan, dan nama saya dijunjung tinggi-tinggi ketika Kakak yang melakukan kesalahan. Untungnya, saya dan Kakak sama-sama saling mendukung.

Buat saya, itulah salah satu hal baik yang Tuhan berikan kepada saya hingga saat ini. Memiliki kakak perempuan saya sebagai kakak dan sahabat adalah berkat yang paling saya syukuri.

Sejak kecil, saya sudah kenyang dibanding-bandingkan oleh Ibu. Mendengar makian semacam "Anak tak berguna!" juga bukan lagi hal asing buat saya. Sampai sekarang pun masih sama. Dan mungkin tak akan pernah berubah. Seiring usia saya bertambah, karakter saya pun semakin terbentuk. Secara tak langsung, semua pengalaman saya memengaruhi cara saya menghadapi orang lain, memandang hidup, dan memandang diri saya sendiri.

Saya rendah diri.

Berulang kali, saya teringat perkataan Ibu--dan mempertanyakan kemampuan diri saya sendiri sebelum melakukan sesuatu. Berulang kali pula saya meyakinkan diri saya sendiri, bahwa saya bisa, saya bisa, saya bisa. Namun begitu kata-kata pedas Ibu berputar dalam benak saya, saya kembali menyerah pada kelemahan-kelemahan saya. Pada akhirnya, biasanya saya memang benar-benar gagal. Atau bahkan, tidak melakukan apapun sedari awal, karena sudah terlanjur yakin akan gagal.

Menjadi rendah diri bukan satu-satunya. Perlakuan Ibu menjadikan saya pribadi yang 'keras'. Siap memberontak kapan saja. Dan ini sering berkecamuk dalam benak saya. Bagaimana bila saya tak lagi menerima kata-kata Ibu yang merendahkan? Bagaimana jika saya melakukan hal yang tak diijinkan Ibu hanya untuk menunjukkan bahwa saya berani memberontak dan membela diri saya sendiri? Bagaimana kalau saya tak mau lagi menjadi anak yang hanya melakukan hal-hal yang bisa Ibu banggakan kepada orang lain?

Saya pun pernah berpikir, bagaimana jika saya meninggalkan rumah saja?

Saya benar-benar hampir pergi dari rumah. Meninggalkan semua hal yang membuat pikiran saya kalut. Tapi satu hal menahan saya dengan sangat kuat. Keponakan kecil yang sangat saya sayangi.

Saya tidak mampu meninggalkannya. Untuk dia, saya akan bertahan. Saat memikirkannya, keinginan saya yang sangat besar untuk pergi dari rumah saya redam sebisa mungkin. Saya ingin hadir untuk keponakan kecil saya, untuk melindunginya semampu yang saya bisa dari perbandingan-perbandingan yang ditujukan kepadanya.

Saya ingin mengatakan bahwa ia bisa. Bahwa ia istimewa. Bahwa ia berani karena sudah mencoba. Bahwa ia unik sebagaimana dirinya. Bahwa ia tak perlu seperti orang lain, tak perlu setinggi si anu, sepintar si anu, atau serupawan si anu. Saya ingin ia tahu bahwa ia utuh sebagai dirinya sendiri. Bahwa hidup bukan kompetisi tanpa henti untuk membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Bukan hal mudah, tapi di sinilah saya sekarang, masih berusaha mengatasi perang yang ada baik di dalam diri saya ataupun di luar sana, dengan orang terdekat yang saya panggil Ibu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Kerap 'Dibanding-bandingkan' dengan Orang Lain, dan Saya Lelah. Saya Nyaris Menyerah.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Juna | @junabei

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar