6.3K
Seringkali kita diingatkan, baik dalam bentuk kecil maupun besar, bahwa mengabaikan adalah tindakan yang kita ambil ketika kita tahu bahwa apa yang kita putuskan akan terasa menyakitkan.

Manusia adalah tempatnya salah dan dosa.

Demikian kalimat yang akhir-akhir ini sering menari-nari di benak saya.

Namun, bukan berarti hal tersebut dapat menjadi pembenaran terhadap kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, kan? Karena salah adalah salah, dan tak bijak rasanya mencari-cari alasan dan pembenaran hanya untuk mendatangkan sedikit ketenangan dalam hati. Dan bukankah jika manusia bisa menjadi tempat salah dan dosa, berarti manusia juga bisa menjadi tempat bagi kebenaran dan kebaikan?

Sebenarnya, ketika kita melakukan sesuatu yang 'salah', ada banyak pertanda yang sering muncul untuk mengusik, 'mencubit', bahkan 'menampar' nurani kita. Namun, seringkali kita mengabaikannya dengan mengatasnamakan kenyamanan, kepuasan, atau kebahagiaan sesaat.

Seringkali, tanpa sadar--atau bahkan dengan sadar, kita mengabaikan pertanda-pertanda yang mengusik nurani itu. Tentunya, biasanya diiringi kata-kata pembelaan seperti: "Ah, kapan lagi bisa begini..." atau "Tak apalah, sekali ini saja," atau "Kesalahan ini kan masih jauh lebih kecil dibandingkan kesalahan orang lain..." dan masih banyak lagi.

Tentu, kita akan merasa tenang sedikit. Untuk sementara waktu. Tapi akan tiba saatnya ketika perasaan tak nyaman yang mengusik nurani kita itu sudah terlalu kuat untuk diabaikan. Ada batas untuk segala sesuatu: termasuk batas untuk menoleransi kesalahan demi kesalahan yang kita perbuat. Karena ada rasa 'takut' yang terus mengusik dalam nurani, kita jadi berani untuk memperbaiki kesalahan dan menanggung kehilangan atau sakit hati--asalkan batin kita bisa merasa lega dan ringan.

Kelegaan luar biasa inilah yang biasanya mengalahkan ketakutan-ketakutan kita untuk melakukan hal yang benar.

Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, bahkan selalu ada waktu untuk memulai lagi dari awal. Keberanian mengambil langkah awal memang bukan proses yang mudah. Ketika keberanian itu muncul menghampiri, segeralah sambut ajakannya untuk melakukan hal yang benar, untuk meninggalkan kesalahan-kesalahan yang selama ini kita lakukan.

Dengan menjawab ajakan nurani, tanpa disadari, kita akan mengawali hidup dengan kebaikan. Dan walau terkadang menjalani kebaikan dirasa merepotkan atau tak terlalu menggembirakan, kita selalu tahu bahwa di dalam lubuk hati, rasanya melegakan. Semacam kelegaan sederhana yang bisa membuat kita tidur dengan nyenyak di malam hari; dan membuat kita tenang menjalani hidup sehari-hari.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ada Pertanda-pertanda Ketika Kita Melakukan Kesalahan. Apakah Kita Memperhatikannya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Poetoe MadSu | @poetoemadsu

Seorang wanita yang berusaha menggapai mimpinya dengan berbagi kisah tanpa harus melepaskan harapan untuk merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Hidupku hidupmu. Tanpa bermaksud saling mematikan rasa.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar