10.5K
Wajar, jika putus hubungan dengan pasangan membuat kita sedih dan terluka. Tetapi mengapa beberapa di antara kita nampaknya terluka dan bersedih begitu berkepanjangan? Mengapa beberapa di antara kita sepertinya begitu sulit melanjutkan hidup ketika putus dari pasangan? Ini beberapa alasan yang saya dapati dari salah satu episode patah hati saya yang berkepanjangan:

1. Kita kehilangan 'perasaan' yang kita dapatkan ketika berada dalam sebuah hubungan.

Seringkali, kita berada dalam sebuah hubungan demi sebuah 'perasaan' tertentu--yang bukan melulu cinta atau kasih-sayang.

Sebagian dari kita berada dalam sebuah hubungan untuk merasa sukses, merasa aman, merasa nyaman, merasa cantik atau menarik, merasa keren, merasa terjamin, merasa terhibur, dan lain sebagainya. Kita menggunakan pasangan dan hubungan sebagai cara untuk melengkapi apa yang kita rasa kurang dalam hidup kita.

Maka, begitu pasangan dan hubungan direnggutkan dari kehidupan kita, kita pun seperti kehilangan pegangan, dan kembali merasa kurang. Merasa tidak cukup. Merasa tidak lengkap.

Inilah sebabnya mengapa kita perlu merasa cukup dengan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk jatuh cinta.

2. Kita merasa kesepian dan baru sadar bahwa kita 'tak punya si(apa)-si(apa)' selain pasangan.

Terkadang, tanpa kita sadari, ketika tengah berada dalam hubungan yang hangat-hangatnya, kita menjadikan pasangan sebagai orang nomor satu dalam hidup kita. Segala yang kita lakukan berpusat pada pasangan dan hubungan--sehingga teman-teman, keluarga, pekerjaan, bahkan hobi yang biasa kita tekuni rela kita geser ke prioritas kesekian. Pokoknya, pasangan dan hubungan kita harus didahulukan!

Lama-kelamaan, kita semakin terhanyut dalam gelembung hubungan kita sendiri, dan pasangan menjadi satu-satunya kehidupan dan interaksi sosial kita. Kita jauh dari keluarga dan teman-teman, tak lagi menghadiri acara-acara komunitas yang kita senangi... tapi, tak mengapa: bukankah ada pasangan yang bisa selalu menemani dan membuat kita tertawa bahagia?

Namun ketika hubungan tak berjalan mulus dan kita dan pasangan mesti berpisah, biasanya pada saat itulah kita merasa sangat sendirian dan sangat kesepian. Baru biasanya kita sadari bahwa kita telah kehilangan satu-satunya interaksi sosial kita; dan kita telah terlanjur 'jauh' dari teman-teman dan keluarga. Atau baru kita sadari selama ini kita telah menelantarkan hobi dan pekerjaan atau proyek sosial yang dikerjakan bersama kawan-kawan demi menomorsatukan hubungan.

Penting menghabiskan waktu dengan keluarga dan kawan-kawan, juga mengejar karir dan menekuni hobi yang kita sukai bahkan ketika kita berada dalam sebuah hubungan. Tetap memiliki interaksi sosial yang berarti dengan orang lain membuat kita bisa merasa bahagia, produktif, kreatif, dan dicintai--bahkan ketika tidak lagi memiliki pasangan.

3. Kita terlanjur menggantungkan harapan tinggi pada pasangan dan kecewa karena harapan itu tidak terpenuhi.

Banyak di antara kita yang menjalani hubungan dengan ekspektasi tertentu. Misalnya, bahwa suatu hari kita akan menikah dengan pasangan, bahwa pasangan akan terus bersama-sama kita, bahwa pasangan akan selalu ada untuk kita, bahwa pasangan akan selamanya setia, dan lain sebagainya.

Ketika keadaan berjalan di luar apa yang kita harapkan, kita kecewa. Dan kekecewaan inilah yang sebenarnya membuat luka hati kita sulit untuk disembuhkan. Seringkali, alasannya bukan karena kita kehilangan pasangan, tapi karena kehilangan kesempatan menggapai 'harapan' yang tadinya sepertinya sudah dekat sekali dari genggaman.

Tentu, berharap boleh-boleh saja. Namun kita juga perlu memahami bahwa 'harapan' masihlah 'harapan' sebelum harapan itu menjadi kenyataan. Maka, jalanilah sebuah hubungan dengan niatan untuk saling mengenal dengan lebih baik, untuk memberikan kesempatan bagi diri kita untuk mengalami rasanya dicintai dan mencintai, untuk mengetahui apakah kita dan pasangan berbagi maksud dan tujuan yang sama.

Dengan demikian, kita tak terjebak perasaan kecewa berkepanjangan saat ekspektasi kita terhadap hubungan itu tidak terpenuhi.

4. Kita terus mencari apa yang salah dengan diri kita, dan berandai-andai apa yang terjadi seandainya kita tidak 'melakukan kesalahan'

Kita seringkali menyalahkan diri sendiri ketika hubungan yang tidak berjalan baik, atau ketika pasangan memutuskan menyudahi hubungan. Kita bertanya: apa salah saya? Apa saya tidak cukup baik? Mengapa saya tidak bisa membuat dia berubah? Mengapa saya tidak bisa membuat dia mau bertahan dalam hubungan ini?

Lalu kita berandai-andai dan menyesali diri: "Andai saya lebih begini, andai saya lebih begitu... mungkin hubungan ini masih bisa dipertahankan."

Tapi menyalahkan diri sendiri tidak akan membantu kita untuk menyembuhkan luka hati setelah berpisah dari pasangan. Dengan menyalahkan diri sendiri dan berandai-andai seperti ini, kita hanya akan terus hidup di masa lalu.

Daripada menyalahkan diri sendiri atau berupaya keras menjadi 'pasangan yang lebih baik' dalam hubungan selanjutnya, akan lebih baik jika kita berupaya menjadi 'versi diri kita' yang terbaik saja. Bukan untuk pasangan kita di masa depan, tapi bagi kebahagiaan diri kita sendiri.

Bukankah kita akan merasa bahagia jika bisa menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri?

5. Kita telah 'mengorbankan' terlalu banyak hal dalam hubungan ini.

Ini adalah salah satu alasan mengapa kita tak bisa cepat menyembuhkan luka hati ketika putus hubungan. Kita merasa sudah terlanjur memberikan 'terlalu banyak', atau mengorbankan terlalu banyak hal.

Mungkin kita sudah membuang impian untuk bekerja di kota lain karena ingin dekat dengan pasangan, mungkin kita memutuskan untuk mengubah gaya dan penampilan dengan biaya mahal hanya untuk menyenangkan pasangan; mungkin kita sudah bertengkar hebat dengan orang tua yang tak setuju dengan hubungan kita dan pasangan--dan kabur dari rumah.

Kita tahu bahwa kita telah 'berkorban' terlalu banyak ketika kita menganggap apa yang kita lakukan sebagai pengorbanan. Kita tahu bahwa kita telah 'berkorban' terlalu banyak ketika hal nomor satu yang memengaruhi keputusan kita adalah keberlangsungan hubungan kita atau persetujuan pasangan; tanpa mempertanyakan terlebih dahulu apakah keputusan yang akan kita ambil baik untuk diri dan masa depan kita sendiri.

Put yourself first. Ambillah keputusan yang baik untuk diri dan masa depan kita. Percayalah bahwa pasangan yang baik akan selalu mendukung kebahagiaan kita, bahkan mau bercakap dan berkompromi untuk mendapatkan solusi yang baik demi kelancaran hubungan bersama.

6. Kita merasa bahwa kita tak akan mendapatkan pasangan lain seperti dia.

Kita seringkali merasa putus asa ketika baru saja keluar dari sebuah hubungan, karena kita 'percaya' bahwa kita tak akan bisa mendapatkan pasangan lain seperti pasangan kita ini. Apakah benar?

Benar sekali.

Tentu tak ada dua orang yang persis sama di muka bumi ini. Karenanya, mustahil memang, bahwa kita bisa mendapatkan pasangan yang sama seperti pasangan yang memutuskan kita. Tapi, ketahuilah bahwa kita bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik dan lebih cocok untuk kita dibanding pasangan kita yang terdahulu!

7. Kita telah menjadikan pasangan dan hubungan sebagai ukuran sukses dan tujuan hidup.

Ketika kita melakukan sesuatu hanya agar pasangan kita senang; berprestasi dalam pekerjaan agar pasangan kita bangga; berdandan feminin hanya agar pasangan kita memuji... kita telah menjadikan pasangan sebagai 'pemberi nilai' dalam hidup kita. Tujuan hidup kita, lantas, adalah untuk membuat pasangan merasa senang, nyaman, bahagia, dan bangga terhadap diri kita.

Persetujuan pasangan membuat kita merasa telah mendapatkan pencapaian tertentu. Definisi sukses bagi kita adalah ketika kita berhasil 'mempertahankan' pasangan dan hubungan. Menyenangkan pasangan menjadi tujuan hidup kita. Ketika hubungan tak berjalan dengan baik atau pasangan memutuskan hubungan; kita pun kehilangan ukuran 'kesuksesan' kita itu.

Tiba-tiba semua yang kita lakukan tak lagi bermakna: untuk apa kita berprestasi, berdandan, dan lain sebagainya, jika tak ada pasangan yang akan memuji atau memberikan persetujuan? Kita pun merasa tak lagi punya tujuan hidup.

Lakukan apa yang baik untuk diri kita karena kita ingin menyenangkan diri sendiri; bukan untuk menyenangkan orang lain. Persetujuan tertinggi datang bukan dari orang lain; tetapi dari diri kita sendiri: ketika kita merasa bangga atas apa yang telah kita capai, atas apa yang telah kita lakukan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "7 Alasan Mengapa Kita Sulit Mengobati Luka Hati Ketika Putus Hubungan dengan Pasangan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Charma Kamelia | @charma

A girl trying to find her place in the world.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar