4K
Saya sering mendengar orang berkata bahwa kita tak akan mengerti perasaan orang tua—terlebih seorang ibu, sampai kita sendiri menjadi seorang ibu. Saya tidak pernah memikirkan hal ini secara mendalam, sampai akhirnya saya melahirkan putra pertama saya, beberapa waktu lalu.

Semasa remaja, saya sering mempertanyakan mengapa para orang tua mau melakukan hal-hal yang seringkali membuat mereka tak nyaman—atau bahkan hal yang nampak nyaris tak masuk akal; terlebih lagi jika hal itu dilakukan demi menuruti permintaan anak-anak mereka. Dan kini, setelah saya menjadi seorang ibu, barulah saya mengerti mengapa orang tua saya melakukan hal-hal yang mereka lakukan dulu:

1. Saya mulai mengerti bagaimana Ibu saya—entah bagaimana caranya; selalu bisa mengetahui berbagai macam hal yang saya lakukan atau inginkan, bahkan jika saya berbohong atau tidak memberitahu beliau.

Menghabiskan waktu 24 jam sehari selama berminggu-minggu dengan putra saya yang baru lahir, saya baru sadar betapa kuatnya ikatan batin di antara kami. Saya adalah interaksi pertamanya akan kehidupan. Sayalah yang memberi contoh kepadanya tentang pola komunikasi dan interaksi yang akan memengaruhi perkembangan dan pola-pikirnya. Tak heran jika saya—secara intuitif—mengerti apa yang ia minta, suka, atau inginkan, bahkan ketika putra saya baru bisa menangis.

Saling pengertian antara saya dan putra saya bahkan melebihi pengertian saya terhadap pasangan sendiri; seperti ibu saya pun mengenal saya lebih baik dari ayah. Ibu mengerti kepribadian dan segala perilaku saya karena beliau mempelajari perkembangan saya tahun demi tahun; sedangkan saya mengerti ibu karena dalam pola bicara, aksen, dan kepribadian saya, ada jejak-jejak ibu yang menuntun saya dari awal kehidupan.

2. Saya mulai mengerti mengapa Ayah dan Ibu jarang menikmati makan malam di luar atau pergi berjalan-jalan.

Sejak putra pertama saya lahir, saya mengerti mengapa banyak hal yang tadinya menjadi prioritas atau kesenangan tersendiri bagi saya kini menjadi tak terlalu penting. Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya dan pasangan dapat memenuhi kebutuhan putra pertama saya: baju-baju, makanan, susu, kesehatan, pendidikan...

Tiba-tiba saja saya menyadari betapa berharganya menghemat pengeluaran dengan mengurangi waktu-waktu makan di restoran atau minum-minum di kedai kopi—atau dengan menghabiskan akhir pekan di rumah saja; demi menabung untuk keperluan anak saya.

Saya kini mengerti mengapa Ibu saya dulu masih saja mengenakan daster beliau yang sudah robek, dan enggan membeli daster baru walaupun memiliki uang lebih. Uang lebih itu mungkin sudah dimasukkan ke dalam tabungan untuk masa depan saya; seperti saya pun akan melakukannya untuk putra saya kelak.

3. Saya mulai mengerti mengapa orang tua saya selalu keberatan jika saya menginap di rumah nenek, atau di rumah teman.

Berpisah dari anak ternyata butuh persiapan mental bagi orang tua. Untuk melepaskan anak yang dirawat dan dibesarkannya dengan penuh kasih-sayang ke bawah tanggung-jawab orang lain adalah hal yang luar biasa sulit. Saya pun merasakannya saat ini, ketika tengah memandangi putra kecil saya.

Saya bisa membayangkan betapa sedihnya saya nanti ketika putra saya sudah cukup mandiri untuk bisa tidur sendiri—atau ketika ia sudah mulai merengek untuk bermalam di rumah kawan baiknya; ketika ia tak mau lagi saya peluk dan ciumi. Baru membayangkannya saja, dada saya sudah terasa sesak oleh rasa sepi dan kehilangan.

4. Saya mulai mengerti mengapa Ibu mengomel ketika melihat saya menangis.

Ketika putra saya rewel, ada saat-saat ketika saya juga kehilangan kesabaran saya dan mengomel—sebelum saya pun akhirnya ikut menangis. Saya menangis karena saya sadar bahwa saya bukan marah atau mengomel kepada putra saya, tetapi sesungguhnya saya marah terhadap diri saya sendiri.

Melihat putra saya menangis dan tak bisa menghentikannya membuat saya merasa tak berdaya. Sebagaimana orang tua lain, saya hanya ingin menjaga anak saya dari segala hal buruk di dunia ini: malapetaka, kecelakaan, sakit fisik, sakit hati. Ketika melihat putra saya menangis tanpa mengetahui apa sebabnya dan bagaimana saya bisa menghentikan tangisnya atau membuatnya menjadi ceria kembali, saya merasa tertekan. Saya merasa bersalah karena saya tak bisa melindunginya.

5. Saya mulai mengerti mengapa orang tua saya kerap menghukum saya untuk kesalahan-kesalahan yang saya perbuat.

Saya sering memandangi putra saya dan berdoa agar saya bisa membesarkannya menjadi seorang anak yang baik. Saya pun mulai berpikir, bagaimana seandainya ketika ia besar nanti ia melakukan hal yang buruk, dan saya harus mendisiplinkannya. Rasanya tak tega jika saya harus menghukum atau memarahinya. Membayangkannya saja sudah membuat saya sedih.

Tetapi jika saya tak menerapkan disiplin, besar kemungkinan putra saya pun tak akan belajar mengenai yang benar dan yang salah, dan tak akan mengerti mengenai pentingnya bertanggung jawab atas pilihan yang ia ambil. Semua orang tua hanya ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Jika dulu saya mengomel ketika mendapat hukuman, kini saya merasa sangat berterima kasih atas ajaran orang tua saya.

6. Saya mulai mengerti mengapa Ayah mau hujan-hujanan membelikan bubur dan Ibu mau repot-repot menjerang air hangat untuk mandi ketika saya sakit.

Saya juga mulai mengerti mengapa Ayah rela bangun pagi-pagi sekali untuk mengantar saya ke sekolah meskipun beliau baru tidur selama 2 jam; dan mengapa Ibu sudah sibuk di dapur sejak hari kemarin agar dapat menyiapkan bekal makan siang saya untuk esok harinya. Saya pun sudah mengalami banyak episode begadang semalaman, kaki dan punggung pegal, terjaga tiba-tiba ketika baru tertidur selama 15 menit—semuanya demi memastikan bahwa putra saya baik-baik saja.

Dan meskipun semuanya terasa begitu melelahkan, anehnya, saya masih saja tetap melakukannya. Ada kepuasan tersendiri ketika saya bisa melihat putra saya tidur dengan tenang, mengoceh ceria (entah apa yang ia katakan), tertawa, atau tersenyum kembali setelah saya membantunya agar merasa lebih nyaman. Cinta ternyata memang bisa membuat orang tua melakukan pengorbanan yang sebesar apapun untuk anak-anaknya.

Hal terkecil mengambil tempat terbesar di hati, demikian kata pepatah. Kakak saya kehilangan anak keduanya. Dan sejak saat itu, ia berubah menjadi seperti bukan dirinya sendiri—bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Seluruh harapannya seakan telah tergantikan oleh duka cita.

Betapa orang tua akan terlebih dahulu menyalahkan dirinya sendiri atas segala hal buruk yang terjadi pada anaknya. Saya baru mengerti mengenai hal ini ketika melihat malaikat kecil di dada saya; yang hadir setelah melalui proses persalinan selama 48 jam. Dan jika sesuatu terjadi padanya, mungkin saya pun akan melalui kedukaan yang sama.

Namun kini, dengan putra kecil saya di pangkuan, saya hanya ingin melihatnya tumbuh dewasa dan bahagia; dan saya ingin menjadi orang tua yang baik baginya. Mungkin saya tak sempurna. Mungkin, dalam perjalanan, saya pun melakukan kesalahan-kesalahan yang tak saya maksudkan. Mungkin ada saatnya ketika putra kecil saya akan meluapkan amarahnya terhadap saya karena ia tak suka dengan disiplin dan nilai-nilai yang saya terapkan.

Meski demikan, saya akan terus memberikan yang terbaik baginya—sebaik yang saya bisa. Dan semoga, suatu hari nanti, ketika ia telah menjadi seorang Ayah, ia pun bisa mengerti mengapa saya melakukan hal-hal yang saya lakukan padanya ketika ia masih kecil dulu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "6 Hal yang Mulai Saya Ketahui tentang Orang Tua Saya Setelah Menjadi Seorang Ibu". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Agnes Adam | @AgnesAdam

Digital media enthusiast • Blogger at agnesanctuary.com • First Time Mom • Traveler and foodie

What do you think ?