1.9K
Apa yang kita dapat ketika harus 'berteman' dengan depresi?

Setelah didiagnosa dengan depresi, saya akhirnya merasa lega. Lho, kok lega? Ya, saya merasa demikian karena akhirnya setelah bertahun-tahun mempertanyakan hal yang sama, “Aku ini kenapa, sih?” - akhirnya saya mendapat jawaban dari apa yang selama ini saya alami. And all of a sudden, it all makes sense for me now.

Berjibaku dengan depresi memang tak mudah. Rasanya bahkan nyaris seperti bertarung melawan diri sendiri setiap hari. Tiga tahun lamanya hidup dengan depresi, pada akhirnya mengajari saya tentang beberapa hal yang mungkin tak diketahui setiap orang:


1. Ketika merasa senang merupakan sebuah tantangan besar, cari bantuan.

1.	Ketika Merasa Senang Merupakan Sebuah Tantangan Besar, Cari Bantuan. -

Saya pernah mencoba meminta saran kepada beberapa teman: bagaimana cara agar saya bisa bahagia? Jawabannya semudah membalikkan telapak tangan, “Ya, kamu tinggal berpikir positive dan bawa enjoy aja.” Pernah juga seorang teman saya berkata, “Tinggal seneng aja, apa susahnya, sih?”

It seems like everything is easier said than done. 

Saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk berpikiran positif dalam segala hal yang saya lakukan. Tetapi rasanya seolah saya ini sedang berusaha memberitahu diri saya sendiri sederet puisi gombal yang perlu dipertanyakan kebenarannya. Kalimat-kalimat penyemangat seperti: “Everything’s going to be alright.” Atau “Stay postive even in the most negative moment.” 

Rasanya hanya seperti omong-kosong belaka.

Saya menyadari saya tidak bisa sembuh hanya dengan disodori berbait-bait kalimat motivasi. Saya tahu, saya butuh bantuan. Ketika menjadi senang merupakan sebuah tantangan, dan saya kesulitan merasakan bahagia, I need to find help. Professional help.

Meminta nasihat dari orang yang tak mengerti kondisi saya, terkadang malah membuat situasinya semakin rumit. Yang ada, saya kecewa atau sakit hati. Bukan salah mereka, mungkin mereka tak tahu kondisi saya. Karenanya, bicara pada orang yang bisa mengerti, yang memang punya kapasitas untuk membantu kita.

2. Menjadi depresi itu BUKAN pilihan. Berhenti menyalahkan diri sendiri.

2.	Menjadi Depresi Itu BUKAN Pilihan. Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri. -

Di saat terjebak antara deadline dan tumpukan tugas yang belum selesai, bukannya kalang-kabut bekerja, saya malah mengurung diri di kamar, bersembunyi di balik selimut, dan tidur sepanjang hari.

Saya tahu jelas apa yang seharusnya saya lakukan. Saya harus melakukan A, B, C untuk mencapai X, saya harus jadi produktif just like what I’m supposed to be. Tetapi yang saya lakukan malah kebalikan dari semua itu. Rencana saya hanya tinggal wacana. Lagi-lagi, depresi seolah berkata ‘tidak’ pada segala hal yang hendak saya lakukan.

Saya hanya bisa berkata bahwa ini jelas bukan pilihan saya. Lagipula, siapa yang ingin jadi depresi hingga kehilangan semangat hidup seperti ini? Tidak ada, bukan?

Saya ingin menjadi produktif. Saya ingin menjadi pemimpin yang baik. I want to be that person I always think I would be. Tetapi ketika kondisi mental saya tidak mendukung, saya tak kuasa melakukan apa-apa. Rasanya ada sesuatu yang mengikat saya erat-erat, dan saya tidak bisa melepaskannya walau secara teori, saya tahu caranya.

Yang bisa saya lakukan hanyalah memaafkan diri saya sendiri. Lagi dan lagi, setiap hari, karena saya tahu ini bukanlah pilihan saya.

My mental state doesn’t define who I am as a person.


3. Merasa selalu malas walau tahu bahwa kita bukan pemalas? Mungkin ada masalah yang lebih serius.

3.	Merasa Selalu Malas Walau Tahu Bahwa Kita Bukan Pemalas? Mungkin Ada Masalah Yang Lebih Serius. -

Orang-orang mungkin bisa bilang: “Kamu kan tinggal bangun dari kasur dan mulai kerja!" 

Tetapi mereka tidak tahu betapa susahnya hanya untuk menggeser tubuh saya mendekati tepi tempat tidur. It feels as if I hold the whole world on my shoulder every single day. Bahkan ketika bangun tidur, saya sudah merasa energi habis terkuras, capek, lelah luar biasa. Padahal baru juga bangun. Tidur tampaknya tidak membantu menyegarkan pikiran dan tubuh saya.

Melakukan hal-hal kecil lain seperti membersihkan rumah, membaca buku, atau bahkan merawat diri sendiri rasanya sangat susah untuk saya lakukan. Saya sungguh ingin hidup sebagaimana orang seumuran saya menjalani hidup.

Sebelum saya menderita depresi, saya adalah sosok yang produktif. Saya memiliki to-do list yang terpampang jelas. Bahkan saya bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk hilir mudik menata ulang ruangan saya. Kehidupan pagi ala-ala sinetronlah yang dulu saya jalani. Yang bangun pagi, jogging keliling kompleks, buat sarapan, dan akhirnya tertidur di atas sofa dengan piring kosong di atas meja. 

Tetapi boro-boro jogging, setelah depresi, bangun dari tempat tidur saja rasanya setengah mati.

Awalnya saya pikir saya hanya malas saja. Namun, rupanya apa yang saya hadapi jauh lebih besar dari apa yang pernah saya kira.



4. Orang yang tak menghakimi susah ditemui. Depresi membuat saya mengenal mana teman yang baik dan tak menghakimi kondisi yang saya alami.

4.	Orang Yang Tak Menghakimi Susah Ditemui. Depresi Membuat Saya Mengenal Mana Teman Yang Baik Dan Tak Menghakimi Kondisi Yang Saya Alami. -

Sebelum memutuskanberkonsultasi ke psikolog dan psikiater, saya pernah bercerita ke beberapa orang teman tentang depresi yang saya alami. Entah karena saya memang bercerita pada orang yang salah, atau mereka yang tidak paham akan permasalahan saya, saya malah hanya mendapat judgement. Hal ini membuat saya semakin menutup diri dari lingkungan luar.

Dengan depresi, saya jadi tahu bahwa orang yang benar-benar bersedia mendengarkan saya tanpa menyalahpahami apa yang saya hadapi sangatlah sedikit. Bahkan nyaris tidak ada pada awalnya.

Bersyukurlah bagi Anda yang memiliki seorang pendengar yang mau mendengarkan keluh-kesah Anda tanpa menuduh Anda yang tidak-tidak.



5. Saya tak bisa menghadapi ini sendiri. Dan kita memang tak harus menghadapi depresi seorang diri.

5.	Saya Tak Bisa Menghadapi Ini Sendiri. Dan Kita Memang Tak Harus Menghadapi Depresi Seorang Diri. -

Saya memang terkenal sebagai sosok yang mandiri dan independen. Pada awalnya, saya bahkan mencoba untuk menghadapi depresi seorang diri. Saya buat plan A, B, C beserta berbagai macam back up plan. Tetapi pada akhirnya saya justru stres sendiri karena seluruh sepak-terjang saya tidak berhasil. 

Di saat seperti ini, saya sadar bahwa saya butuh bantuan.

Awalnya memang seolah saya sedang mencoreng nama sendiri. I’m not that naïve to admit that I have dignity. Tetapi dengan memperoleh bantuan dari orang yang tepat, saya merasakan manfaat yang positif bagi kesembuhan saya.

You’re strong not when you can do it all on your own, but when you’re not afraid to ask for help whenever you feel it’s all too much for yourself.

Saya meyakinkan Anda bahwa Anda tidak sendiri dalam perjuangan melawan dan berteman dengan depresi yang serasa tak ada ujungnya. Dan memang seharusnya, kita tidak sendiri. Jangan pernah takut meminta bantuan pada mereka yang mengerti kondisi kita. Kita tak harus menghadapi ini sendiri.

Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Hal yang Saya Pelajari dari Pengalaman 'Berteman' dengan Depresi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Nurlita Lailana | @nurlita

INTJ | Critical thinking | A blogger on nur-lita.com | Writer | Wonderer |

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar