3.9K
Apakah orang-orang pernah memberitahu Anda mengenai hal-hal (yang tidak benar) berikut ini?

Banyak orang yang bilang kalau orang yang berobat ke psikiater itu dicap ‘gila’ atau ‘nggak waras’. Di bayangan orang awam pasti orang-orang yang macam ini adalah orang yang secara harfiah benar-benar gila. Padahal, nyatanya sama sekali tidak begitu.

Saya, yang menulis artikel ini, sudah 3 tahun menderita depresi; dan bolak-balik konsultasi ke psikolog. Pada akhirnya saya dirujuk ke psikiater. Tetapi apa kondisi saya ini membuat saya menjadi ‘gila’ seperti apa yang orang-orang pikir? Tidak.

Sebenarnya, saya banyak menemui orang-orang yang menderita berbagai penyakit mental di Indonesia. Basically, saya kenal mereka secara online. Dari yang depresi, gangguan kecemasan (anxiety), hingga OCD (obssessive compulsive disorder). Kita sama sekali tidak boleh naif untuk mengakui bahwa hal seperti ini memang sedang dan banyak terjadi di negara kita, sekalipun masyarakat belum terlalu paham dengan hal seperti ini.

Mungkin Anda langsung bertanya-tanya, “Masak, sih? Buktinya saya nggak pernah ketemu sama orang yang punya gangguan mental, tuh!"

Saya bisa maklum. Karena gejala-gejala dari gangguan mental tidak selalu kasat mata dan t ak bisa disadari hanya dengan sekali lihat. Kesehatan mental seseorang tidak bisa langsung kita tentukan hanya dengan melihat penampilan fisik atau kesehariannya. Bahkan, jangan-jangan teman dekat Anda sedang berjuang untuk sembuh dari gangguan mentalnya tanpa sepengetahuan Anda? Siapa tahu?

Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan kebanyakan orang yang saya kenal—those who deal with mental issue—cenderung untuk menutup-nutupi permasalahan mental yang mereka punya. Mengapa? Karena mereka takut akan penghakiman dari lingkungan sekitarnya. Berikut, saya sebutkan stigma apa saja yang masih menyelimuti kita seputar kesehatan mental; kata-kata yang juga sering dilontarkan kepada saya:


1. “Kamu kok malesan gitu, sih?

1. “Kamu Kok Malesan Gitu, Sih? -

Sebagai penderita depresi, saya paling sensitif dengan yang satu ini. Di saat saya lagi down, tidak punya motivasi, atau bahkan terpikir bunuh diri, saya malah dikira malas dan nggak niat sekolah oleh teman-teman saya. Saat ditanya “Kenapa sedih?” atau “Kamu kenapa, sih? Seharian murung terus!” - saya sama sekali tidak bisa jawab. Memangnya saya harus jawab apa?

Masak saya jawab, “Saya lagi depresi. Harap dimaklumi."

Kan nggak mungkin. Pada akhirnya saya hanya bisa senyum sekilas dan bilang, “Lagi capek aja. Mungkin butuh istirahat."  Menjelaskan hal yang agaknya tabu kepada orang-orang yang tidak open-minded dengan perkara seperti ini memang sulit sekali.

Jadi, biasanya saya bilang kalau saya lelah dan butuh istirahat.


2. “Udah, deh, nggak usah cari perhatian.”

2.	“Udah, Deh, Nggak Usah Cari Perhatian.” -

Iya, orang dengan depresi memang kadang susah dimengerti. Mereka bisa tiba-tiba down di saat sama sekali tidak ada yang salah dengan hidup mereka. Tetapi bukan berarti mereka berusaha untuk mencari perhatian. Please, deh, kalau kita cari perhatian, mengapa kami tidak pasang umbul-umbul di depan rumah yang bertuliskan: “SAYA DEPRESI, JANGAN GANGGU?" 

Alih-alih terbuka atau 'pamer' dengan keadaan yang mereka punya, kebanyakan penderita gangguan mental malah cenderung untuk menyembunyikannya, kok.


3. “Kayaknya kamu diganggu setan, deh.”

3.  “Kayaknya Kamu Diganggu Setan, Deh.” -

Saya pernah mencoba untuk menceritakan masalah saya kepada kakak saya. Saya kira kakak saya bisa memberi saya penerangan atau apapun yang bisa membuat saya merasa lebih baik, namun yang saya dapat justru sebaliknya.

Kakak saya mulai paranoid dengan keadaan saya. Dia kira saya diganggu dengan makhluk-makhluk halus yang ada di rumah saya. Saya bahkan nyaris dibawa untuk menemui salah seorang pemuka agama kenalan kakak saya untuk dibimbing agar permasalahan ini lekas selesai. Namun, pendekatan secara religius ini juga tidak berhasil.

Saya butuh diagnosis dari ahli yang mengerti perihal kesehatan mental. Saya bukan kerasukan.


4. “Kayaknya kamu kurang beriman.”

4.	“Kayaknya Kamu Kurang Beriman.” -

Saya juga sedih dinasehati seperti ini. Semua orang yang saya ceritakan mengenai struggle saya ujung-ujungnya malah meminta saya untuk menyerahkan semuanya kembali ke tangan Tuhan. Seolah-olah dengan beribadah 24 jam, itu bisa membuat saya sembuh secara ajaib.

Nyatanya, gangguan mental punya banyak aspek yang perlu disembuhkan, mulai dari psikis sampai fisik.

Mungkin pendekatan secara religius saja bisa berhasil bagi sebagian orang yang tengah down, namun bagi mereka dengan depresi klinis seperti saya, kami butuh bantuan ahli--secara medis dan psikologis. Sama sebagaimana teman-teman yang punya sakit fisik pergi berobat ke dokter.

Tentu, pada prosesnya, berdoa bisa membantu memperkuat keyakinan kita bahwa kita akan sembuh. Namun, saya juga percaya bahwa Tuhan tidak akan menolong umat-Nya yang hanya berdoa tanpa melakukan usaha apapun untuk menolong dirinya sendiri. Berobat dan berkonsultasi dengan psikiater juga merupakan salah satu bentuk usaha dan ikhtiar untuk sembuh. 


5. “Nggak usah lebay. Kamu tuh cuma galau aja.

5.	“Nggak Usah Lebay. Kamu Tuh Cuma Galau Aja. -

Ada seorang teman saya yang pernah berkata begini. Rasanya saat itu ingin sekali saya lempar wajahnya dengan sandal jepit. Kadang, orang-orang juga berceletuk, “Kamu cuma mood swing karena lagi PMS aja, kali”. 

Pertanyaannya adalah, adakah mood swing ala-ala PMS yang membuat saya rasanya pingin terjun dari lantai 12 sebuah gedung? Saya rasa tidak demikian.

Saya pikir, orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental dan cenderung untuk menyembunyikan hal itu bukan berarti mereka tidak ingin berbagi, tetapi karena mereka takut untuk berhadapan dengan stigma-stigma yang selama ini ada di masyarakat kita yang belum memang teredukasi mengenai masalah kesehatan mental.

Ini yang malah kerap kali membuat para penderita malah takut untuk terbuka kepada lingkungannya. Bahkan banyak orang yang baru berobat setelah gejalanya terlanjur parah. 

Dalam kasus ini, mendapat penanganan yang terlambat malah akan memperlambat proses pengobatan yang harus dijalani pasien. Jadi, bagi Anda yang sedang berhadapan dengan kondisi mental yang kurang baik, yuk, langsung konsultasikan permasalahan Anda dengan dokter atau orang-orang terdekat yang punya pemahaman baik soal kesehatan mental.

Dan jika Anda beruntung dan tak memiliki permasahan serupa, saya ingin mengajak Anda untuk meningkatkan kepekaan Anda terhadap orang-orang di sekitar Anda, terutama orang-orang terdekat, juga keluarga, yang mungkin sedang berjibaku dengan gangguan mental dan sungguh membutuhkan dukungan, kepercayaan, dan kasih-sayang dari Anda.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "5 Hal Menyakitkan yang Sering Didengar Mereka yang Mengalami Gangguan Mental". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Nurlita Lailana | @nurlita

INTJ | Critical thinker | A blogger on nur-lita.com | Writer | Wonderer |

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

makasih kak info nya Contoh CV