3.4K
Saya pernah bertanya kepada seorang kawan, mengapa ia memutuskan untuk menulis. Ia bilang, ia ingin hidup selamanya. Menulis, menurutnya, adalah salah satu cara yang bisa ia lakukan untuk terus hidup, bahkan lama setelah ia tiada. Saya teringat akan kawan saya itu hari ini, ketika membaca berita tentang berpulangnya seorang seniman hebat dunia, David Bowie.

Seniman multi-talenta asal Inggris ini adalah seorang penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, pelukis, juga aktor legendaris sekaligus. Tak heran, jika ia dianugerahi Grammy Lifetime Achievement Award atas produktivitasnya selama lebih dari 40 tahun di industri hiburan.

Dari berbagai wawancara, tulisan, maupun percakapan David Bowie, 11 kutipan seniman legendaris ini meninggalkan pelajaran hidup berharga untuk kita:

1. Kita tak perlu mengetahui akhir ceritanya. Kita hanya perlu, sebisa mungkin, untuk menikmati perjalanan menuju ke sana.

Kita seringkali mencemaskan apa yang akan terjadi nanti. Kita memasuki sebuah hubungan dan mencemaskan apakah hubungan ini akan berakhir dengan patah hati atau pernikahan. Kita memulai pekerjaan di kantor baru dan mencemaskan apakah pekerjaan ini bisa memberikan kita cukup uang untuk membeli rumah yang kita idam-idamkan.

"Saya tak tahu ke mana saya akan menuju setelah ini, tapi yang jelas, perjalanannya tak akan membosankan." - David Bowie

Untuk David Bowie, tak mengetahui akhir ceritanya tak menjadi soal. Dan ia benar. Kita tidak akan pernah tahu persis apa yang akan terjadi nanti, esok pagi, di masa depan, di akhir hari. Segala hal bisa terjadi. Mencemaskannya takkan membantu kita untuk melewatinya. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani setiap momen sebaik yang kita bisa, dan menikmatinya. Jangan sampai kita melewatkan momen-momen indah yang bisa kita nikmati hanya karena kita mencemaskan nanti yang tak pasti.

2. Jangan memberi makan pikiran buruk.

Saya teringat sebuah kisah. Seorang kakek bercerita kepada cucunya, bahwa dalam diri setiap manusia, bersemayam serigala baik dan serigala buruk. Serigala baik dan serigala buruk berkelahi sepanjang waktu. Sang cucu bertanya, "Lalu, siapa yang akhirnya menang, Kek?" dan Kakek menjawab, "Yang menang adalah serigala yang kau beri makan."

"Saya tak pernah merespon pikiran-pikiran buruk." - David Bowie

Setiap hari, kita bergumul dengan pikiran baik dan pikiran buruk. Mereka datang sewaktu-waktu, dan bisa mengubah suasana hati kita dalam sekejap. Seperti kisah kecil di atas, pikiran yang akan 'menang' adalah pikiran yang kita beri makan, yang kita beri perhatian, yang kita pelihara. David Bowie mengetahui hal ini, dan ia tak mau menghabiskan waktunya untuk merespon pikiran-pikiran buruk.

3. Tak perlu terlalu serius menanggapi orang lain, maupun diri kita sendiri.

Ada saat-saat ketika seseorang menggoda kita, mengejek, melontarkan kritik, atau mengatakan hal-hal yang melukai perasaan kita. Selama berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun, kita masih mengingat pengalaman buruk itu dan menanggapinya dengan serius. Kita berpikir, apakah benar apa yang ia katakan, apakah kita seburuk itu, mengapa ia begitu jahat... semua ini terus mengikuti kita meskipun peristiwanya terjadi dalam hanya beberapa menit saja, dan sudah berlalu bertahun-tahun lamanya.

Saya tak habis pikir jika orang-orang menganggap serius hal-hal yang saya katakan. Saya bahkan tak menganggap serius diri saya sendiri. - David Bowie

Salah seorang penulis favorit saya, Mishka Shubaly, pernah berkata, "Kita bisa tertawa dan terhibur kalau melihat tokoh kartun Homer Simpson tersandung dan terjungkal. Tetapi ketika diri kita sendiri yang tersandung dan terjungkal, kita melihatnya sebagai sebuah kemalangan. Ini adalah ironi. Mengapa hal yang sama bisa dilihat sebagai hiburan--dan di saat yang lain dilihat sebagai kemalangan?"

Ketika kita terlalu serius dalam menanggapi orang lain, kita menjadi orang yang mudah terpengaruh akan penilaian orang-orang di sekitar kita. Lama-kelamaan kita akan terjebak untuk melakukan, memilih, atau menyukai sesuatu hanya karena kita menginginkan persetujuan orang lain.

Menanggapi diri sendiri dengan terlalu serius pun akan membuat kita menjadi orang yang kaku. Kita takut berbuat salah, takut gagal, takut melakukan hal-hal yang akan terlihat konyol. Padahal kesalahan, kegagalan, atau kekonyolan bisa menyimpan banyak pengalaman, pelajaran, dan gelak-tawa untuk kehidupan kita.

4. Kita adalah manusia biasa yang punya potensi untuk menjadi luar biasa.

Kita mungkin kerap berkata, "Ah, saya tidak bisa melakukan itu," atau "Ah, itu terlalu sulit," atau, "Ah, apalah saya ini," atau, "Ah, saya terlalu bodoh untuk itu..."

Berapa kali dalam sehari kita mengatakan atau memikirkan hal-hal yang mengecilkan diri sendiri seperti ini?

Sekarang, bayangkan jika kita mengatakan hal-hal tersebut pada adik atau anak kita: "Kamu tidak bisa melakukan itu!" atau "Itu terlalu sulit untukmu!" atau "Kamu terlalu bodoh untuk itu!"

Kira-kira seperti apa perasaan adik atau anak kita ketika mendengar ucapan sedemikian? Tentu, rasanya seperti dikecilkan. Diremehkan. Ada rasa sedih, kecewa, dan sakit hati--mungkin diikuti kecemasan atau pemikiran bahwa jangan-jangan yang kita katakan itu memang benar. Bahwa mereka memang tak berdaya, terlalu bodoh, tak bisa melakukan hal-hal sulit, dan seterusnya.

Bukan hal yang mengenakkan, ya?

Saya bukan seorang Nabi atau manusia pra-sejarah, hanya seorang manusia biasa yang memiliki potensi seorang manusia super. - David Bowie

Ada jarak antara kita dengan adik (atau anak) kita, ketika kita mengatakan hal-hal yang mengecilkan tersebut. Dampaknya tetap terasa di diri mereka. Ketika kita mengatakan hal-hal yang mengecilkan diri sendiri, tak ada jarak yang memisahkan kita dari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan kita sendiri. Dampaknya tentu jauh lebih besar.

David Bowie tahu bahwa dirinya hanya manusia biasa--tetapi ia selalu yakin bahwa di dalam diri seorang manusia biasa ini tersimpan potensi seorang manusia super. Bowie tidak mengecilkan dirinya sendiri. He knows better. Ia meyakini potensi dirinya, memercayainya sepenuh hati, dan dengan demikian, dapat mewujudkannya.

Dokter mana yang akan kita pilih untuk datangi? Dokter yang percaya bahwa ia tak cukup baik untuk menyembuhkan kita, atau dokter yang percaya bahwa ia punya banyak cara untuk menyembuhkan kita?

5. 'Berdamai' dengan hal-hal yang menghantui kita lewat karya artistik maupun ekspresi lain yang produktif

Dalam hidup, kita mungkin memiliki 'hantu-hantu' yang senantiasa mengikuti kita dari masa lalu. Hantu-hantu ini bisa jadi penyesalan, kegagalan, hal-hal yang kita harap tak kita lakukan, kesalahan-kesalahan, perasaan-perasaan yang menekan, ingatan-ingatan yang tak menyenangkan, trauma, dan masih banyak lagi.

Yang saya sukai dari musik saya adalah bagaimana musik membangkitkan hantu-hantu di dalam diri saya. Bukan iblis, ya, tetapi hantu-hantu. - David Bowie

Tentu, ada banyak cara untuk 'mengenyahkan' hantu-hantu ini. Sebagian orang menenggelamkannya dalam minuman keras atau obat-obatan, mengusirnya sesaat dengan kesenangan setelah berbelanja habis-habisan, atau membekapnya dengan hingar-bingar pesta hingga dini hari.

Sebagian orang memutuskan untuk 'berdamai' dengan hantu-hantu mereka. Mereka menuangkan hantu-hantu mereka dalam cerita, film, musik, lagu, lukisan, trek lari, desain baju, dan masih banyak lagi. Mereka membangkitkan hantu-hantu mereka untuk memberikan sesuatu yang artistik dan produktif untuk diri mereka sendiri, dan untuk dunia yang mereka tinggali.

6. Kita perlu menemukan makna yang lebih besar untuk apa yang kita lakukan.

Akan ada momen dalam hidup ketika kita bertanya, "Apa makna hidup yang kita jalani ini?"

Sepertinya setiap hari kita berkutat dengan rutinitas yang itu-itu saja, atau yang begitu-begitu saja. Memang, kita bekerja mencari uang untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Atau kita membuat sebuah karya seni untuk mengekspresikan diri yang kemudian membuat kita dikenal dan dihargai oleh mereka yang bergerak di industri seni. Tetapi, kita masih kerap bertanya, "Apakah hidup saya bermakna?"

Sebagai seorang seniman, saya bukan hanya selalu ingin mengekspresikan karya-karya saya. Saya sangat ingin--lebih dari apapun--untuk berkontribusi dalam berbagai cara untuk kebudayaan. - David Bowie

Tentu, hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya. Bagaimana kita bisa berkontribusi bagi dunia--dan sesama, sekecil apapun? Bagaimana keberadaan kita di dunia--atau di lingkungan sekitar kita, bisa memberikan dampak yang baik? What is our legacy?

7. Jangan menunggu, jangan menunda, jangan menyesal di kemudian hari. Gunakan waktu yang ada sebaik-baiknya.

Kita selalu berpikir bahwa kita punya banyak waktu. Bahwa kita bisa bekerja mati-matian sekarang, selagi muda, sehingga suatu saat nanti ketika kita sudah punya rumah dan tabungan yang cukup, kita bisa berlibur dan menikmati hidup. Bahwa kita bisa mengajak anak-anak kita liburan--nanti saja, ketika mereka sudah agak besar, sehingga mereka tidak terlalu rewel dan merepotkan dalam perjalanan.

Tetapi, siapa yang bisa menjamin bahwa kita akan punya cukup waktu? Siapa yang bisa menjamin bahwa nanti yang kita tunggu itu akan datang?

Seiring kita beranjak menua, pertanyaan-pertanyaan kita mungkin hanya tinggal dua atau tiga. Berapa lama lagi? Dan apa yang saya lakukan dengan sisa waktu yang saya miliki? - David Bowie

Ya, mempersiapkan diri untuk masa yang akan datang memang perlu untuk dilakukan--tetapi menikmati waktu yang kita miliki juga tak kalah pentingnya; jika bukan lebih penting. Jangan menunda, jangan menunggu, jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, karena waktu yang sudah berlalu tak akan pernah bisa kembali.

Habiskan cukup waktu dengan orang-orang yang kita sayangi, lihatlah tempat-tempat yang selalu ingin kita kunjungi, katakanlah hal-hal yang selalu ingin kita katakan pada mereka yang paling kita cintai. Hiduplah saat ini--karena kita tak akan pernah tahu berapa banyak sisa waktu yang kita miliki.

8. Kita perlu mengerti seni ketidakmelekatan. The art of non-attachment.

Seorang teman saya pernah berkata, bahwa 'kemelekatan' adalah satu hal yang perlu diwaspadai dari hidup. Kita bisa melekat pada karya yang kita hasilkan, orang yang kita cintai, pekerjaan yang kita miliki, harta yang kita simpan, gaya hidup yang kita sukai, dan masih banyak lagi. Ketika kita melekat terhadap sesuatu yang ada di luar diri kita, kita harus siap ketika suatu waktu sesuatu tersebut direnggutkan dari diri kita.

Semakin kuat dan erat kita melekat terhadap sesuatu, semakin sakit dan dalam luka yang kita rasakan ketika sesuatu itu direnggutkan dari diri kita.

Begitu saya sudah menulis sesuatu, sesuatu itu lepas dari diri saya. Saya seperti tidak lagi menjadi bagian di dalamnya; itu bukan lagi tulisan saya. - David Bowie

David Bowie memahami pentingnya the art of non-attachment. Seni ketidakmelekatan. Begitu ia melepaskan sebuah karya ke dunia, ia tak melekatkan dirinya pada karyanya itu. Dengan demikian, siapa dirinya tak hanya didefinisikan oleh karyanya--atau hartanya, pasangannya, pekerjaannya, dan lain sebagainya.

Ketika ada orang yang memberikan kritik pedas terhadap karya kita, misalnya, seseorang yang melekat terhadap karyanya akan marah, sakit hati, sedih, kecewa, terluka. Ia merasa kritik terhadap karyanya adalah kritik terhadap dirinya. Seseorang yang tidak melekat terhadap karyanya akan melihat kritik dengan lebih netral. Mungkin benar, ia menghasilkan karya tulis yang buruk, tetapi ia tahu bahwa ini bukan berarti ia adalah penulis yang buruk--ataupun manusia yang tak berbakat.

9. Habiskan lebih banyak waktu dengan orang tua kita. Sejarah mereka adalah sejarah kita. Dan orang bijak tak pernah melupakan sejarah.

Tentu, ada banyak hal yang ingin kita tanyakan, diskusikan, atau bicarakan dengan orang tua kita. Tetapi biasanya kita tidak bicara atau bertanya karena segan, takut akan dimarahi, merasa canggung, malu, dan lain sebagainya. Apakah risiko-risiko itu layak kita ambil?

Saya menyesal karena saya tak pernah bisa bicara terbuka dengan orang tua saya, terutama dengan Ayah saya. Saya mendengar dan membaca begitu banyak hal tentang keluarga saya, dan saya tidak lagi bisa percaya apa-apa, setiap kerabat yang saya tanyai selalu punya cerita berbeda. - David Bowie

Seberapa banyak yang kita ketahui tentang orang tua kita? Di mana mereka bertemu? Apakah mereka jatuh cinta? Apa impian-impian mereka semasa kecil dulu? Apa saja pelajaran hidup yang mereka alami hingga saat ini? Apakah mereka mencemaskan kita? Kehidupan seperti apa yang mereka inginkan ketika mereka semakin menua nanti?

Jika kita beruntung dan orang tua kita masih ada bersama kita, cobalah untuk tanyakan atau bicarakan hal-hal yang selalu ingin kita ketahui tentang mereka, tentang kita, tentang sejarah keluarga yang akan selalu menjadi bagian dari diri kita.

Setelah ibunya meninggal dunia, kawan saya memberikan sebuah buku tulis kepada ayahnya. "Tolong tulis segala hal tentang Ayah di sini," kata kawan saya itu. "Dan berikan kepada saya jika Ayah rasa waktunya tepat." Hal ini dirasanya lebih nyaman ketimbang bercakap-cakap langsung. Ketika ayahnya meninggal dunia, kawan saya pun dapat membaca curahan hati dan pemikiran ayahnya lewat buku tulis itu.

10. Jangan selalu tergantung pada penilaian orang lain. Work for yourself.

Kita seringkali haus akan persetujuan, penilaian, atau penerimaan orang lain. Ketika ada orang yang memuji kita, kita senang, dan ketika ada orang yang mengejek, kita sakit hati. Penilaian orang-orang ini kemudian menjadi acuan bagi kita untuk menjalani hidup, untuk menjadi senang atau sedih, untuk menjadi bahagia atau kecewa, untuk berkarya atau berhenti. Kita seringkali takut untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginan dan impian kita sendiri.

"Apa yang akan dikatakan orang lain nanti?" demikian kita mungkin berpikir.

Saya hanya seorang individu yang tidak merasa bahwa ada seseorang yang harus menyetujui atau menilai karya saya dalam cara apapun. Saya bekerja untuk diri saya sendiri. - David Bowie

David Bowie tak ingin hidup seperti itu. Ia memilih untuk tak mendengarkan orang lain sebanyak ia mendengarkan dirinya sendiri. Kita tak akan bisa menyenangkan semua orang. Untuk seribu pujian yang kita dapatkan, akan ada juga seribu hinaan yang datang. Jika kita terus hidup berdasarkan perkataan dan penilaian orang lain, kita tak akan pernah punya waktu untuk mewujudkan kehidupan yang benar-benar kita inginkan.

Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mencemaskan apa yang akan orang lain katakan tentang diri kita. Jalanilah hidup ini karena kita merasa bahwa inilah yang sungguh-sungguh kita inginkan, karena kita percaya bahwa kita menjalaninya dengan baik, karena kita melakukannya dengan penuh cinta dan senang hati, karena kita mendapatkan makna yang berharga dari hidup yang kita jalani.

Di akhir hari, kita akan merasa lega karena kita tak perlu menyesali hidup yang sudah kita lalui.

11. Menunggu hingga segalanya sempurna akan membuat kita tak melakukan apa-apa.

Banyak di antara kita yang gemar bersiap-siap tanpa pernah menjadi siap. Kita selalu berpikir bahwa kita masih perlu belajar banyak hal, mendalami banyak hal, atau menyempurnakan banyak hal, untuk melakukan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Akhirnya kita hanya terus belajar, membaca buku, mengambil kelas, mendengarkan nasihat, mengikuti seminar, dan menumpuk ilmu tanpa pernah melakukan apa-apa.

Saya membuat lebih dari 25 album studio, dan sepertinya dua di antaranya benar-benar jelek, ada juga yang tidak begitu jelek, ada pula yang benar-benar bagus. Saya bangga dengan apa yang sudah saya lakukan. In fact, it's been a good ride. - David Bowie.

David Bowie tak akan pernah menjadi seniman yang begitu produktif jika ia hanya terus bersiap-siap tanpa pernah menjadi siap. Untuk Bowie, tak jadi masalah jika ia mengeluarkan album yang ternyata tak bagus-bagus amat. Yang penting, ia terus berkarya, dan ia bangga dengan apa yang sudah ia lakukan. Ini hal yang bijaksana.

Banyak orang menunggu sampai mereka bisa melakukan sesuatu hingga sempurna--sehingga tak pernah menghasilkan apa-apa. Ada juga orang-orang seperti Bowie, yang berkarya saja, tanpa mencemaskan hasil akhirnya.

Di akhir hari, orang-orang yang menghasilkan banyak karya bisa melihat ke belakang dan menikmati hasil karyanya--sebagian mungkin ada yang bagus, sebagian lagi ada yang kurang bagus. Tetapi orang-orang yang tak pernah menghasilkan karya hanya bisa melihat ke belakang untuk menemukan bahwa mereka tak pernah meninggalkan jejak apa-apa. Sementara, waktu yang sudah hilang tak pernah bisa diputar ulang.

--------

Keterangan Foto Montagem por: Thuany Gabriela Imagem: David Bowie como Ziggy Stardust (c) 2010 Thuany Santana dan digunakan dengan lisensi Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0 Generic (CC BY-NC-SA 2.0)




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "11 Pesan untuk Menjalani Hidup di Balik Kutipan-kutipan yang Ditinggalkan David Bowie ". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hanny Kusumawati | @hannykusumawati

Managing Editor of Kamantara.ID. A published writer and blogger at www.beradadisini.com. Organises workshops & weekend getaways in creative/travel/mindful writing & creative living.

What do you think ?